Warga Asli Greenland Minta Tanggungjawab Pemerintah Denmark

Warga Asli Greenland Minta Tanggungjawab Pemerintah Denmark

Warga Asli Greenland Minta Tanggungjawab Pemerintah Denmark – Grinlandia (Greenland atau Tanah Hijau) adalah negara otonom Kerajaan Denmark yang terletak di antara Samudra Arktik dan Atlantik, sebelah timur Kepulauan Arktik Kanada.

Meski secara fisiogeografis merupakan bagian dari benua Amerika Utara, Grinlandia sangat erat secara politik dan budaya dengan Eropa (khususnya  Norwegia dan Denmark, negara-negara kolonial, dan pulau Islandia) selama lebih dari seribu tahun. Enam orang warga pribumi Greenland telah menuntut dan meminta pertanggung jawaban Pemerintah Denmark terkait masalah kolonialisasi.

Pasalnya, mereka dipisahkan dari keluarganya secara paksa untuk di sekolahkan di Eropa.  Sementara itu, kasus ini disebut sebagai salah satu pelanggaran hak asasi manusia, terutama bagi suku pribumi. Bahkan, Kanada juga sudah melakukan hal serupa dan terungkap setelah ditemukannya makam anak suku pribumi.

1. Meminta kompensasi sebesar Rp538,9 juta

Dilansir dari RT, pengacara enam warga Suku Inuit, Mads Pramming mengungkapkan bila mereka akan mengajukan dokumen gugatan kepada Pemerintah Denmark. Hal ini terkait eksperimen sosial yang dilakukan pada masa penjajahan di Greenland.

“Para warga Suku Inuit telah kehilangan keluarga, bahasa, budaya dan rasa kepemilikan akibat tindakan pemerintah. Ini adalah suatu bentuk pelanggaran privasi dan kehidupan berkeluarga yang tercantum dalam pasal 8 Konvensi Eropa pada HAM” ungkap Pramming.

Maka dari itu, enam orang Suku Inuit yang menjadi korban atas pemaksaan di tahun 1950an itu juga meminta kompensasi sebesar 33.600 euro atau Rp538,9 juta kepada setiap korban.

2. Sebanyak 22 anak Suku Inuit dibawa ke Denmark untuk dididik

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1951, di mana Pemerintah Denmark membawa 22 anak pribumi dari Greenland untuk bersekolah. Puluhan anak itu juga dijanjikan kehidupan yang lebih baik dan kesempatan untuk kembali ke Greenland sebagai bagian dari kebijakan edukasi bagi kalangan elit.

Akan tetapi, setelah menempuh pendidikan di Denmark dan dipulangkan ke kampung halamannya. Puluhan anak itu justru ditempatkan di tempat penampungan anak yatim, meski sebenarnya masih memiliki orangtua.

Menyedihkannya lagi, mayoritas dari anak tersebut sama sekali tidak pernah menghubungi orangtuanya di kampung halaman. Bahkan, pada akhirnya mereka tidak pernah bertemu dengan orangtuanya lagi hingga kini, dikutip dari The Guardian.

3. Korban merasa kehilangan jati diri dan rasa kepemilikan

Saudi Gazzete melaporkan, mayoritas keluarga Suku Inuit sebenarnya menolak tapi mereka terpaksa menyerahkan anak-anak mereka kepada Pemerintah Denmark. Sebanyak 22 anak tersebut berlayar dengan menumpangi kapal MS Disko dari Nuuk menuju ke Kopenhagen.

Salah seorang korban bernama Helene Thiesen yang kini berusia 70an, mengungkapkan jika ibunya merupakan orangtua tunggal dengan tiga orang anak, setelah ayahnya meninggal dunia. Ibunya selalu mengatakan bila Denmark seperti halnya surga, sehingga saya tidak boleh bersedih.

Helena mengungkapkan ia baru menyadari apabila dirinya dibawa dari keluarganya di tahun 1996, ketika ia berusia 52 tahun. Hingga kini, ia tidak pernah membangun kembali hubungan dengan ibunya.

Ia juga sempat berbicara dengan sesama anak yang dibawa ke Denmark dan mereka merasa sudah kehilangan jati diri, rasa kepemilikan dan selalu merasa kurang percaya kepada dirinya sendiri.

Dilaporkan dari The Guardian, pada Desember lalu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen sudah mengucapkan permohonan maaf secara formal atas kejadian ini. “Kami tidak dapat mengubah sesuatu yang sudah terjadi, tapi kami dapat mempertanggungjawabkan dan meminta maaf kepada pihak yang seharusnya kami rawat tapi justru berakhir dengan kegagalan.”

Greenland selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah otonom Denmark, di samping Kepulauan Faroe. Namun, sebelum tahun 1953, pulau terbesar di dunia itu merupakan teritori koloni Denmark di Benua Amerika.

Grinlandia adalah pulau terbesar di dunia (Australia dan Antarktika, sama-sama lebih besar daripada Grinlandia, umumnya dianggap sebagai benua). Tiga per empat Grinlandia ditutupi oleh satu-satunya lempeng es abadi selain Antarktika.

Dengan jumlah penduduk 56.480 jiwa (2013), Grinlandia adalah wilayah berpenduduk terjarang di dunia. Kurang lebih sepertiga penduduknya tinggal di Nuuk, ibu kota sekaligus kota terbesar. Kapal feri Arctic Umiaq Line menghubungkan berbagai kota dan permukiman dan menjadi transportasi utama di Grinlandia barat.