Tiongkok Menuding AS memprovokasi Hubungan Antar Negara

Tiongkok Menuding AS memprovokasi Hubungan Antar Negara

Tiongkok Menuding AS memprovokasi Hubungan Antar Negara – Pertemuan antara pejabat senior Amerika Serikat dan China menandai momen tatap muka pertama mereka untuk mengukur dinamika hubungan dua kekuatan global terpenting. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dan Penasihat Keamanan Nasional, Jake Sullivan, akan bertemu dengan diplomat senior China Yang Jiechi dan Menteri Luar Negeri Wang Yi di Alaska. Tidak ada persepsi keliru dalam tim yang diutus Presiden AS, Joe Biden.

Jelang pertemuan, Blinken menyebut pertemuan ini “bukan dialog strategis”. Dia berkata, saat ini AS juga tidak berniat mengadakan hubungan lebih lanjut. Indonesia menjadi salah satu negara yang dikunjungi Pompeo dalam seri perjalanan ke Asia kali ini, setelah sebelumnya berkunjung ke India, Srilanka, dan Maladewa. Dari Indonesia, Pompeo terbang ke Vietnam, sungguh pun negara ini tak ada dalam jadwal sebelumnya.

Mike Pompeo bertemu dengan Presiden Joko “Jokowi’ Widodo dan berjanji mengupayakan agar lebih banyak pengusaha AS yang Daftar Togel Toto berinvestasi di Indonesia. Saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Pompeo mengatakan, pihaknya mendukung kedaulatan Indonesia di Laut Natuna. Dalam jumpa pers bersama Menlu Retno, Menlu Pompeo menegaskan, AS menolak klaim yang disampaikan Tiongkok atas kawasan Laut China Selatan.

1. Tiongkok anggap AS provokator “Perang Dingin Baru”
Tanggapi Menlu Pompeo, Tiongkok Tuding AS Bikin Muslim Menderita

Menurut Dubes Qian, “merupakan pilihan historis sekaligus pilihan rakyat yang memungkinkan Partai Komunis Tiongkok menjadi pemandu rakyat Tiongkok, dalam melangkah pada jalur perkembangan yang sesuai dengan kondisi nasional Tiongkok sendiri.

Tiongkok, lanjut Qian, berkomitmen untuk membangun kerja sama bersahabat dengan negara-negara lain atas dasar Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai. Tiongkok juga berkomitmen untuk tidak mengekspor ideologinya atau pun mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Namun AS justru meluncurkan apa yang disebut “Perang Dingin Baru”, memprovokasi pertentangan ideologi, dan membangkitkan “revolusi berwarna” di berbagai belahan dunia. Dia juga menyebut, AS secara brutal mengintervensi urusan dalam negeri negara lain, bahkan tidak segan menggunakan perang dan mendatangkan malapetaka bagi dunia.

2. Tiongkok anggap AS penyebar utama (super-spreader) virus politik
Tanggapi Menlu Pompeo, Tiongkok Tuding AS Bikin Muslim Menderita

Dubes Qian mengklaim, “Tiongkok berpegang pada prinsip “rakyat dan keselamatan jiwa adalah prioritas utama” dalam melakukan upaya pengendalian dan pencegahan pandemik COVID-19, yang ilmiah dan efektif, dengan cara yang terbuka, transparan, dan bertanggung jawab.

Tiongkok juga gencar menggalang kerja sama internasional untuk menangani pandemik, serta aktif membangun komunitas kesehatan umat manusia. Sementara itu, para politisi AS menjalankan kebijakan “kepentingan politik sendiri adalah prioritas utama”, telah meremehkan pandemik dan mengabaikan sains, sehingga mengakibatkan penyebaran wabah yang tidak terkendali dan mendatangkan penderitaan bagi rakyat tidak berdosa.

AS, kata Qian, sedang menyebarkan “virus politik”, menimpakan kesalahan kepada pihak lain, menyerang WHO tanpa alasan yang rasional, dan bahkan keluar dari keanggotaan WHO. Tindakan AS ini dinilai telah mengganggu kerja sama global untuk menangani pandemik.”

3. Tiongkok anggap AS penghambat bagi kerja sama dan keterbukaan dunia
Tanggapi Menlu Pompeo, Tiongkok Tuding AS Bikin Muslim Menderita

Dalam keterangannya, Kedubes Tiongkok menyampaikan, Inisiatif “Belt and Road” yang diprakarsai Tiongkok bertujuan untuk mewujudkan keuntungan bagi semua pihak, dengan berlandaskan pada prinsip “konsultasi bersama, pembangunan bersama, dan berbagi manfaat bersama”, keterbukaan, inklusivitas, dan transparansi.

Inisiatif ini telah mendapat tanggapan dan dukungan dari seratus lebih negara dan organisasi internasional. Banyak proyek dalam insiatif ini, misalnya Proyek KA Cepat Jakarta-Bandung, telah membawa manfaat nyata bagi negara-negara yang terlibat, termasuk Indonesia.

Sebaliknya, pemerintah AS menjalankan prinsip “America First“, melakukan proteksionisme perdagangan dan perundungan perdagangan, serta membelokkan rantai industri global. AS juga menggunakan kebijakan perdagangan unilateral untuk menekan negara-negara tertentu.

Aksi AS ini, kata Qian, telah mengganggu sistem perdagangan multilateral dan tatanan ekonomi internasional, telah menghambat perkembangan normal negara-negara di dunia, serta telah menghalangi upaya menggalang kerja sama dan keterbukaan global.

4. Tiongkok menuding AS negara peretas terbesar di dunia

Dubes Qian mengatakan, Tiongkok telah mengajukan Inisiatif Keamanan Data Global demi keamanan jaringan internet dunia. Huawei, ZTE, dan berbagai perusahaan Tiongkok lainnya sudah melakukan kontribusi nyata bagi perkembangan infrastruktur telekomunikasi global.

Sebaliknya AS, demi melindungi hegemoni teknologi dan kepentingan monopolinya sendiri, telah menggeneralisasi konsep keamanan nasional dan menyalahgunakan kekuasaan negara untuk menekan perusahaan Tiongkok secara sewenang-wenang.

Dinas intelijen AS sejak lama telah melakukan penyadapan yang membabi-buta dan ilegal terhadap pemerintah, bisnis, maupun individu dari negara-negara lain, termasuk dari negara-negara sekutu mereka sendiri.

Tindakan ini, ujar Qian, telah mendatangkan ancaman besar bagi keamanan nasional di berbagai negara. Aksi AS yang ibaratnya “maling teriak maling” ini adalah sesuatu yang konyol.

5. Tiongkok tuduh AS pencipta penderitaan bagi dunia Muslim
Tanggapi Menlu Pompeo, Tiongkok Tuding AS Bikin Muslim Menderita

Soal kebebasan beragama, Dubes Tiongkok mengklaim, konstitusi Tiongkok melindungi kebebasan beragama segenap warganya, juga hak-hak sah dari semua etnik minoritas. Hak asasi rakyat semua etnik di Xinjiang sepenuhnya terjamin. Tiongkok adalah sahabat tulus bagi dunia Muslim, yang senantiasa teguh mendukung perjuangan adil rakyat Palestina.

Sebaliknya, pemerintah AS justru menerbitkan “Muslim Ban” (larangan bagi Muslim untuk masuk AS), mengabaikan hak dan kepentingan legal Palestina dalam konflik dengan Israel, membangkitkan “revolusi berwarna” di sejumlah negara Muslim, meluncurkan perang proksi, dan bahkan melakukan serangan langsung terhadap negara lain tanpa alasan valid.

Semua ini, ujar Qian, mendatangkan instabilitas, konflik, perpecahan, dan penderitaan berkepanjangan bagi dunia Muslim.Hubungan antara AS dan China saat ini berada pada titik terburuk dan situasi itu tampaknya belum akan berubah. Jauh sebelum duduk pada jabatannya sekarang, Sullivan ikut menulis artikel di majalah Foreign Affairs bersama penasihat Biden untuk kawasan Asia, Kurt Campbell.

Dalam tulisan itu, mereka secara blak-blakan menyatakan bahwa “masa-masa hubungan dengan China berakhir begitu saja”. Saat ini lumrah menggambarkan hubungan AS dan China sebagai “Perang Dingin” baru. Terminologi itu merujuk persaingan antara AS dan Uni Soviet selama beberapa dekade, pada paruh kedua abad ke-20.

Cara Anda menggambarkan hubungan antara Washington dan Beijing itu penting. Gambaran itu akan menentukan pertanyaan yang kita ajukan dan jawaban yang kita terima terkait persoalan ini.