Presiden Rusia Tidak Akan Hadiri KTT Iklim yang Digelar PBB

Presiden Rusia Tidak Akan Hadiri KTT Iklim yang Digelar PBB

Presiden Rusia Tidak Akan Hadiri KTT Iklim yang Digelar PBB – Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menghadiri pertemuan puncak Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) yang digelar di Glasgow, Skotlandia, pada November mendatang. Konferensi COP26 disebut sebagai “kesempatan terbaik terakhir” bagi umat manusia untuk mengendalikan perubahan iklim.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, dipastikan tidak akan menghadiri COP26 atau KTT iklim yang digelar oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir Oktober nanti. Pengumuman yang disampaikan pada Rabu (20/10/2021) itu menjadi pukulan telak bagi munculnya terobosan internasional tentang krisis iklim. Berdasarkan keterangan juru bicara presiden, Dmitry Peskov, Rusia akan menghadiri konferensi dari jarak jauh.

Rusia merupakan negara penghasil gas rumah kaca terbesar keempat di dunia, dilansir Reuters. Selain Putin, sejumlah kepala negara yang telah mengonfirmasi ketidakhadirannya adalah Presiden China, Xi Jinping, dan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Adapun COP26 akan digelar di Glasgow, Skotlandia dari 31 Oktober hingga 12 November.

1. Rusia akan hadir secara daring dari jarak jauh
Presiden Rusia Vladimir Putin Tidak Hadir Pada COP 26 di Inggris

Pada pengumuman yang sama, Kremlin juga mengabarkan bahwa Putin tidak akan menghadiri KTT G20 di Italia bulan ini, karena kekhawatiran tentang pandemik COVID-19.

“Kami perlu mencari tahu dalam format (Putin) memungkinkan untuk berbicara melalui konferensi video dan pada saat apa,” kata Peskov.

“Isu-isu yang akan dibahas di Glasgow sekarang menjadi salah satu prioritas kebijakan luar negeri kita,” tambahnya, menegaskan bahwa Rusia tidak memandang sebelah mata urgensi pertemuan itu.

2. Rusia berkomitmen nol emisi karbon pada 2060

2060, Rusia Berkomitmen Capai Netralitas Karbon

Rusia memanas 2,8 kali lebih cepat daripada rata-rata global, dengan mencairnya lapisan es Siberia yang menutupi 65 persen daratan Rusia. Hal itu memicu peningkatan besar gas rumah kaca.

Pekan lalu, Putin menyampaikan bahwa Rusia akan berusaha untuk menjadi negara dengan netral karbon selambat-lambatnya pada 2060. Menurut Putin, hidrogen, amonia, dan gas alam kemungkinan akan memainkan peran yang lebih besar di tahun mendatang.

Kemudian, dia juga menegaskan bahwa Rusia siap untuk berdialog dengan siapa saja untuk mengatasi perubahan iklim.

3. Pandemik COVID-19 di Rusia masih mengkhawatirkan
Rusia, Indonesia, Bangladesh Berjuang Keras Lawan COVID-19 Varian Delta |  DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 28.06.2021

Sebelum pengumuman Kremlin, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan kepada para investor bahwa COP26 akan dihadiri banyak tokoh. Pekan lalu, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengurungkan niatnya untuk tidak menghadiri COP26.

Sebelumnya, dia enggan menghadiri acara tersebut karena kewajiban karantina bagi siapa saja yang baru kembali dari luar negeri. Menurut dia, karantina menghambat kinerjanya dalam mengatasi pandemik COVID-19 di Negeri Kanguru.

Terkait pandemik COVID-19 di Rusia, trennya memang meresahkan. Rusia mencatat rekor kematian harian tertinggi yaitu 1.015 kematian. Sehari sebelumnya, Rusia juga mencatat rekor infeksi harian tertinggi yaitu 34.325 kasus baru dalam sehari, dilansir dari Worldometer. Total infeksi corona di Rusia mencapai 8 juta kasus dengan 226 ribu kematian.

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi belum memberikan konfirmasi terkait kehadirannya dalam konferensi tersebut. China sendiri adalah penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia dan India yang ketiga. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berharap untuk mencapai komitmen yang lebih kuat dari pemerintah di seluruh dunia untuk menghentikan perubahan iklim yang tak terkendali.