Pemerintah Latvia Akan Kembali Memberlakukan Aturan Lockdown

Pemerintah Latvia Akan Kembali Memberlakukan Aturan Lockdown

Pemerintah Latvia Akan Kembali Memberlakukan Aturan Lockdown – Sejumlah negara kembali memberlakukan lockdown ketat akibat angka kasus infeksi Covid-19 yang terus meningkat. Pemberlakuan lockdown di sejumlah negara diharapkan dapat mengurangi potensi penularan, yang disebabkan oleh aktivitas dan interaksi masyarakat. Di Asia Tenggara, Singapura dan Malaysia kembali menerapkan lockdown setelah adanya lonjakan kasus Covid-19 di kedua negara tersebut.

Lockdown juga diterapkan di Argentina, di mana gelombang kedua pandemi Covid-19 melanda negara tersebut. Pemerintah Latvia mengumumkan apabila negaranya akan kembali menerapkan lockdown. Hal ini dilakukan menyusul kenaikan kasus COVID-19 dan semakin memburuknya situasi lantaran rendahnya angka vaksinasi warga di negara Baltik itu.

Belakangan ini diketahui Latvia menjadi negara kedua dengan tingkat penularan COVID-19 terbesar di Uni Eropa. Bahkan negara Baltik itu termasuk salah satu negara dengan rata-rata vaksinasi di bawah standar UE, di mana vaksinasinya baru mencapai 54 persen. Latvia yang memiliki penduduk lebih dari 1,9 juta jiwa itu telah mencatatkan sebanyak 187 ribu kasus COVID-19.

1. Penerapan lockdown akan dilakukan mulai 21 Oktober

Dilansir dari RT, Berdasarkan keterangan Perdana Menteri Krisjanis Karins mengungkapkan, “Sistem kesehatan kita sedang dalam bahaya dan satu-satunya jalan keluar dari krisis ini adalah dengan vaksinasi. Toko-toko non esensial, restoran, sekolah, dan sejumlah tempat hiburan akan ditutup dan sejumlah bisnis hanya diperbolehkan buka harus mengikuti jam malam mulai pukul 20.00 hingga 05.00.”

Karins juga menjelaskan jika penerapan lockdown akan resmi dilakukan pada tanggal 21 Oktober hingga 15 November. Pasalnya, kini hampir seluruh rumah sakit di negara Baltik itu sedang sibuk lantaran dipenuhi pasien COVID-19.

Di samping itu, Karins dan Menkes Daniels Pavluts juga meminta maaf atas kebijakan lockdown ini kepada seseorang yang sudah divaksinasi.

“Kami, selaku pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan, tidak berhasil mencapai target vaksinasi. Maka dari itu, kita meminta Anda untuk menunda kehidupan normal dalam beberapa minggu demi menghindari kemungkinan terburuk.” ungkap Pavluts, dikutip dari laman Associated Press.

2. Seorang anggota parlemen Latvia salahkan kelompok minoritas Rusia

Dilaporkan dari RT, penerapan lockdown kali ini mendapatkan berbagai tanggapan dari anggota parlemen di Latvia. Namun, anggota parlemen dari partai sayap kanan National Alliance, Janis Iesalnieks menyalahkan kasus ini kepada masyarakat minoritas Rusia yang disebut menjadi dalang naiknya kasus COVID-19.

“Anak-anak Latvia tidak akan bisa lagi belajar dan bermain olahraga karena adanya sekelompok orang yang datang sejak era Soviet dan tidak segera melakukan vaksinasi yang berdampak pada penuhnya kapasitas rumah sakit. Ini sangat tidak adil” ungkap Iesalnieks.

Pada Maret lalu, Dewan Eropa sudah mengingatkan Latvia terkait hak yang dimiliki dari etnis Rusia di negaranya. Pasalnya, selama ini komunitas minoritas Rusia di Latvia kerap termarjinalkan lantaran memiliki bahasa, budaya dan pandangan geopolitik yang berbeda.

Di lain sisi, kelompok itu mengungkapkan jika “Pernyataan yang dilontarkan seorang parlemen itu tidak akan membuat otoritas membuat suatu aksi yang tepat, justru akan membuat impresi impunitas dan ketidakjelasan, sehingga mengakibatkan buruknya situasi antar etnis.”

3. Lockdown diperkirakan akan merugikan negara hingga Rp3,2 triliun

Sementara itu, Menteri Keuangan Latvia Jānis Reirs mengungkapkan bila beberapa sektor ekonomi yang terdampak lockdown kali ini akan mendapatkan kompensasi kerugian lantaran diharuskan tutup.

“Kami melihat sangat dekat kebijakan untuk mendukung sejumlah wirausahawan, sehingga dana bantuan tidak akan hilang dan akan tetap diberikan. Namun, dana bantuan kemungkinan akan dikurangi jika dibandingkan bulan Januari, Februari dan Maret tahun ini. Bantuan tersebut akan mencapai 200 juta euro (Rp3,2 triliun)” kata Reirs.

Akan tetapi Reirs juga menambahkan apabila lockdown tidak diterapkan, maka krisis di rumah sakit dan seluruh sistem pelayanan kesehatan akan terus membengkak antara 250 juta (Rp4,1 juta) hingga 300 juta euro (Rp4,9 juta), dilansir dari LSM.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memutuskan untuk kembali memberlakukan lockdown setelah setelah kasus Covid-19 di negara itu melampaui 1 juta kasus dan kasus hariannya menyentuh angka 20 ribu kasus. Ilmuwan memperingatkan skenario terburuk, di mana 80 ribu orang atau lebih bisa meninggal karena virus corona.

Kasus harian yang merangkak naik juga mengancam tenaga kesehatan bakal kewalahan menghadapinya. Selain Inggris, tiga negara berikut juga memutuskan untuk memberlakukan kembali lockdown atau pembatasan gerak masyarakat demi meredam penyebaran virus corona, yang mematikan.