Kolombia Menuding Militer Venezuela yang Masuk ke Wilayahnya

Kolombia Menuding Militer Venezuela yang Masuk ke Wilayahnya

Kolombia Menuding Militer Venezuela yang Masuk ke Wilayahnya – Hubungan Kolombia–Venezuela mengacu pada hubungan diplomatik antara negara-negara yang berbatasan dengan Kolombia dan Venezuela . Hubungan tersebut telah berkembang sejak awal abad ke-16, ketika penjajah Spanyol  menciptakan Provinsi Santa Marta (sekarang Kolombia) dan Provinsi Andalusia Baru (sekarang Venezuela).

Negara-negara tersebut berbagi sejarah untuk mencapai kemerdekaan mereka di bawah Simón Bolívar dan menjadi satu negara— Gran Colombia—yang bubar pada abad ke-19. Setelah itu, hubungan keseluruhan antara kedua negara terombang-ambing antara kerja sama dan perjuangan bilateral. Pemerintah Kolombia menyebut bahwa sejumlah militer Venezuela masuk ke wilayahnya tanpa izin dengan melintasi perbatasan di Sungai Negro.

Akibatnya Kolombia mengecam aksi ini dan menyebutnya sebagai bentuk provokasi yang dapat meningkatkan ketegangan kedua apk idn poker negara. Selama ini, Kolombia dan Venezuela tengah dirundung ketegangan setelah saling tuding terkait pemberontak asal Kolombia yang beroperasi di perbatasan. Bahkan keduanya juga sudah memutuskan hubungan diplomatik setelah Kolombia tidak mengakui Maduro sebagai presiden Venezuela.

1. Pasukan Venezuela menumpang kapal warga dan masuk ke teritori Kolombia

Pada Selasa (24/8/2021) terjadi konfrontasi di perbatasan Kolombia-Venezuela, tepatnya di Sungai Negro yang masuk Departemen Guaniadan Provinsi Amazonas. Pasalnya warga Kolombia menyebut dua personel militer Venezuela telah masuk ke teritori Kolombia yang terletak di tepi selatan sungai tanpa izin.

Bahkan menurut Menlu Kolombia, Marta Lucia Ramirez menyebut dua orang penjaga perbatasan itu dengan paksa menaiki kapal boat milik warga Kolombia bernama El Guainiano. Kemudian kapal yang juga membawa warga sipil beserta barang itu mendarat di tepi Sungai Negro pada bagian Kolombia.

Beberapa menit setelahnya, personel militer Kolombia memulangkan kedua penjaga perbatasan Venezuela dengan kapal yang sama. Hal ini dilakukan untuk menjamin kedaulatan dan perlindungan bagi warga sipil Kolombia, dikutip dari El Tiempo.

2. Kolombia sebut aksi itu sebagai pelanggaran hak navigasi bebas

Dikutip dari Market Research Telecast, Pemerintah Kolombia memastikan bahwa aksi yang dilakukan militer Venezuela sebagai pelanggaran hak navigasi bebas dan perjanjian bilateral. Bahkan pihaknya juga menyebut hal itu sebagai kekerasan kepada warga sipil yang dibebaskan untuk melintasi sungai pada perbatasan kedua negara.

Presiden Ivan Duque juga mengatakan, “Kami telah mendapat provokasi secara terus menerus oleh rezim diktator Venezuela, maka dari itu kita harus bertindak profesional. Kita tidak hanya melindungi warga negara kita saja, tapi kita juga harus melindungi kedaulatan negara kita.”

3. Venezuela tolak tudingan yang diutarakan Kolombia
Kolombia Tuding Tentara Venezuela Masuk Tanpa Izin

Dilansir dari laman Market Research Telecast, menanggapi insiden ini, Menlu Venezuela, Felix Plasencia menolak pernyataan tidak konsisten dari Menlu Kolombia. Bahkan Plasencia menyebut, “Kolombia sedang mencoba untuk meningkatkan tensi antara kedua negara dan mengabarkan konflik yang tidak benar mengenai interkasi yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan koordinasi antar otoritas lokal.”

Pihak Caracas juga menyebutkan, “Perbatasan di wilayah tersebut memang sulit dan membutuhkan koordinasi diplomatik. Namun tidak adanya keinginan dari Pemerintah Kolombia untuk membangun saluran komunikasi membuatnya semakin sulit untuk meningkatkan kinerja efektif demi hukum perbatasan yang lebih baik.” 

Di sisi lain, Venezuela juga terus berkomitmen penuh dengan Perjanjian dan Kesepakatan Navigasi antar kedua negara. Plasencia juga berkata, “Kami ingin berkooperasi dan berkoordinasi untuk aksi bersama demi menjamin keamanan dan kestabilan perbatasan Kolombia-Venezuela.”

Pada Debat Umum Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-74, Presiden Iván Duque Márquez mempresentasikan dokumen 128 halaman yang mengungkapkan dukungan Venezuela atas rencana penetrasi lintas batas dengan membantu jaringan kriminal, yang melawan Kolombia. 

Pada 30 September 2019, Menteri Pertahanan Kolombia Guillermo Botero memanggil media untuk membocorkan bukti yang membuktikan bahwa Venezuela berlindung dan berkoordinasi dengan Tentara Pembebasan Nasional (ELN) untuk merencanakan serangan terhadap Kolombia.