Kemenkes Berharap Vaksin Booster Bisa Disuntikkan pada 2022

Kemenkes Berharap Vaksin Booster Bisa Disuntikkan pada 2022

Kemenkes Berharap Vaksin Booster Bisa Disuntikkan pada 2022 – Pemerintah memastikan memulai program vaksinasi covid-19 dosis ketiga atau booster secara lebih luas pada 2022. Skema jenis vaksin yang akan digunakan sebagai booster tengah dikaji. Vaksinasi booster di Indonesia masih terbatas untuk tenaga kesehatan (nakes). Sebab, nakes dinilai berpotensi tinggi tertular virus korona.

Menurut Budi, kajian skema kombinasi vaksin terkait penyuntikan vaksin dosis pertama dan kedua menggunakan Sinovac dan booster juga Sinovac. Kemudian, penyuntikan dosis satu dan dua Sinovac, lalu dosis ketiga menggunakan AstraZeneca.

Ia menambahkan prioritas pertama yang diberikan vaksin booster adalah tenaga kesehatan. Tetapi, prioritas selanjutnya yang diberi vaksin penguat adalah kaum lansia. “Pemberian vaksin booster ini dapat menggunakan platform homologus atau heterologus. Artinya, bisa dengan vaksin yang sama atau berbeda,” tutur dia lagi.

1. Warga diminta bayar sendiri untuk vaksin booster mulai tahun 2022
Vaksin Booster Diharapkan Bisa Disuntikkan Pada 2022

Sebelumnya, dalam rapat kerja dengan komisi IX DPR, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menyampaikan bahwa mulai tahun 2022, vaksin booster tidak lagi diberikan secara gratis. Warga harus membayar sendiri. Pemerintah hanya akan menanggung pemberian vaksin booster secara gratis bagi masyarakat yang tidak mampu dan masuk ke dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Menkes Budi memperkirakan harga suntikan vaksin booster sekitar Rp100 ribu. Menurutnya, dengan nominal sebesar itu tidak akan memberatkan masyarakat.

Sementara, menurut Pelaksanaan Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memang belum menyarankan pemberian vaksin dosis ketiga. Sebab, distribusi vaksin COVID-19 di dunia hingga saat ini belum merata dan rata-rata vaksinasi di dunia belum mencapai 10 persen.

“Tapi, bukan soal tidak boleh secara medis, melainkan secara kesetaraan itu masih banyak masyarakat dunia yang belum divaksinasi,” ujar Max dalam diskusi virtual pada awal September 2021 lalu.

2. Tidak etis memperjual belikan vaksin booster di masa pandemik COVID-19
Pakar Vaksin: Suntikan Vaksin Booster Covid-19 Tidak Diperlukan Halaman all  - Kompas.com

Sementara, anggota Ombudsman Indraza Marzuki Rais mengatakan praktik pemberian vaksin berbayar tidak etis selama kekebalan kelompok belum tercapai. Ia pun tak menampik praktik jual beli vaksin COVID-19 dosis ketiga sudah mulai terjadi di DKI Jakarta.

Sepanjang belum terjadinya kekebalan komunal dan juga akses vaksinasi masih sulit didapatkan masyarakat, maka itu sudah tidak etis dan tidak adil bahwa masyarakat harus membeli vaksin,” kata Indraza pada diskusi virtual pada 8 September 2021 lalu.

Ia juga mendorong Kemenkes untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.

3. Vaksin booster diprioritaskan diberikan lebih dulu kepada kaum lansia
Vaksin Booster Diharapkan Bisa Disuntikkan Pada 2022

Sementara, Menkes Budi menjelaskan ketika pemberian vaksinasi booster mulai dilakukan, maka kelompok yang akan diprioritaskan adalah mereka yang rentan yakni kaum lansia. Pemberian vaksin booster pun hanya berlangsung untuk satu kali suntikan saja.

“Kita ketahui bersama risiko paling tinggi itu pada lansia bisa 12 persen sedangkan risiko rendah anak-anak sekitar di bawah 1 persen,” ujar Budi ketika melakukan rapat kerja dengan komisi IX DPR.