Fakta-fakta Seputar Perseteruan Antara China-Taiwan

Fakta-fakta Seputar Perseteruan Antara China-Taiwan

Fakta-fakta Seputar Perseteruan Antara China-Taiwan – Peringatan Hari Nasional ke-110 Taiwan dan Hari Revolusi 1911 China diwarnai pernyataan tegas dari pemimpin kedua negara tersebut. Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menegaskan komitmennya untuk mempertahankan negerinya dengan cara apapun.

“Tidak ada yang dapat memaksa Taiwan untuk mengambil jalan yang telah dipaksakan China kepada kami. (China) seharusnya sama sekali tidak memiliki ilusi bahwa rakyat Taiwan akan tunduk pada tekanan. Ini karena jalan yang ditawarkan China tidak menawarkan kebebasan dan demokrasi bagi Taiwan,” kata Tsai, Minggu (10/10/2021).

“Reunifikasi lengkap (China dan Taiwan) akan dapat diwujudkan,” kata Xi, Sabtu (9/10/2021), dilansir dari Xinhua. Di balik ketengan China-Taiwan, berikut fakta-fakta seputar perseteruan antara kedua negara tersebut.

1. Sejarah singkat Taiwan pada era kolonialisme
5 Fakta soal Konflik China-Taiwan yang Tiap Tahun Semakin Memburuk

Dilansir dari BBC, Taiwan pertama kali masuk catatan Tiongkok pada 239 M, ketika seorang kaisar mengirim pasukan ekspedisi untuk menjelajahi daerah tersebut. Beijing kemudian mengklaim kepemilikan teritori tersebut.

Sepanjang 1624-1661, Taiwan sempat berada dalam naungan Belanda. Selepas itu, sepanjang 1683-1985, pulau berjuluk Formosa itu dipimpin Dinasti Qing.

Pada 1985, Jepang yang berhasil memenangkan Perang Sino-Jepang pertama, berhasil merebut Taiwan dari Dinasti Qing. Negeri Sakura menguasai Taiwan hingga 1945.

Setelah Perang Dunia II, Jepang menyerah dan melepaskan kendali atas wilayah yang telah diambilnya dari China. Sebagai anggota sekutu, Amerika Serikat (AS) dan Inggris sepakat menyerahkan Taiwan kepada China.

2 Perang sipil awal terpisahnya kedua negara
Menengok Hubungan Taiwan-China: Musuh Tapi Mesra

Beberapa tahun kemudian, terjadi perang saudara di China antara pasukan Partai Kuomintang (KMT) yang dipimpin Chiang Kai-shek melawan tentara Komunis Mao Zedong. Pada 1949, sekitar 1,5 hingga 2 juta pasukan KMT yang kalah perang melarikan diri ke Taiwan. Gerombolan KMT menyumbang sekitar 14 persen dari total populasi Taiwan.

Pada 1988, Lee Teng-hui menggantikan posisi Ching-kuo. Kemudian, dia tercatat sebagai warga asli Taiwan pertama dan tokoh yang berhasil memenangkan pemilihan presiden secara demokratis pertama pada 1966.

Pada 1991, pemerintahan darurat yang berlangsung selama 43 pun berakhir, dan Taiwan mendeklarasikan telah mengakhiri perang dengan China.

Lee Teng-hui juga dikenal sebagai ‘bapak demokrasi’ Taiwan. Dia merupakan tokoh yang mewujudkan perubahan konstitusional menuju politik yang lebih demokratis. Berkat dia juga, pada 2000 Chen Chui-bian terpilih sebagai Presiden Taiwan, dia juga tercatat sebagai presiden non-Kuo Mintang pertama.

3. Gerakan Bunga Matahari meruntuhkan hubungan baik China-Taiwan

Ini Alasan Bunga Matahari Selalu Menghadap Matahari : Okezone techno

Hubungan China-Taiwan sebenarnya mulai membaik pada 1980-an, ketika China mulai memperkenalkan formula “satu negara, dua sistem”. Taiwan sebagai salah satu provinsi China akan memperoleh otonomi khusus, sistem yang sama seperi Hong Kong.

Meski Taiwan menolak gagasan itu, tapi kegiatan ekonomi dan investasi masih berlangsung dengan China. Dialog antara perwakilan resmi kedua belah pihak juga terus berjalan.

Kemenangan Chui-bian dari Partai Progresif Demokrat (DPP) mengubah hubungan dua negara secara dramatis, karena dia terang-terangan mendukung gagasan kemerdekaan Taiwan.

Peristiwa itulah yang mengantarkan KMT menuju kekalahan terburuknya pada November 2014, dan terpaksa mengganti calon presidennya pada Oktober 2015 karena dianggap terlalu dekat dengan China.

4. Kemerdekaan Taiwan jadi visi Presiden Tsai Ing-wen
5 Fakta soal Konflik China-Taiwan yang Tiap Tahun Semakin Memburuk

Pada 2016, DPP berhasil mengambil alih pemerintahan dengan kemenangan Tsai Ing-wen. Perempuan kelahiran 31 Agustus 1956 itu juga tercatat sebagai presiden perempuan Taiwan pertama.

“Memilih Tsai Ing-wen berarti kita memilih masa depan kita untuk berdiri dengan demokrasi dan kebebasan,” katanya, sebuah keterangan yang bisa mengalahkan rivalnya Han Kuo-yu dari KMT.

Pada era Tsai, Taiwan semakin getol mencari dukungan internasional. Baru-baru ini, mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott dan sejumlah anggota parlemen Prancis berkunjung ke Taiwan.

Pada tahun lalu, dua menteri AS juga berkunjung ke Taiwan, tercatat sebagai kunjungan yang dilakukan pejabat tinggi sejak Washington memutus hubungan diplomatik pada 1979.

5. Hanya segelintir negara kecil yang mengakui kedaulatan Taiwan
5 Fakta soal Konflik China-Taiwan yang Tiap Tahun Semakin Memburuk

Pada dasarnya, Taiwan telah memenuhi segala syarat untuk mendirikan negara. Mereka memiliki warga atau masyarakat, teritori, dan pemerintahan. Taiwan bahkan memiliki lebih dari 300 ribu pasukan militer aktif. Hanya saja, mereka tidak memiliki pengakuan internasional.

Di bawah rezim one-China policy, China melihat Taiwan sebagai separatis yang ingin memisahkan diri. Rezim itu juga membatasi banyak negara untuk berhubungan dengan Taiwan, sebab China tidak ingin ada satu pun negara mitranya memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Pada 1971, Taiwan kehilangan keanggotaan PBB dan hampir puluhan kali entitas tersebut mengajukan keanggotaan di organisasi internasional tersebut.