Aksi Demonstrasi Oposisi Kembali Terjadi di Negara Bolivia

Aksi Demonstrasi Oposisi Kembali Terjadi di Negara Bolivia

Aksi Demonstrasi Oposisi Kembali Terjadi di Negara Bolivia – Krisis politik pasca-Pemilu Bolivia 2019, yang juga dikenal sebagai Unjuk rasa Bolivia 2019. Revolusi Bolivia 2019 dan dikenal dalam Bahasa Spanyol sebagai Primavera Boliviana (Musim Semi Bolivia). Dan Primero la Democracia adalah serangkaian aksi demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi di Bolivia sejak tanggal 21 Oktober 2019 menentang pemerintahan Evo Morales yang berkuasa selama hampir 14 tahun.

Aksi demonstrasi di Bolivia kembali terjadi terkait penolakan terhadap hukum pemberantasan hukum keuntungan ilegal. Aksi kali ini dilangsungkan oleh persatuan pekerja retail, konstruksi, dan transportasi serta diikuti oleh simpatisan oposisi dan partai politik. Hukum kontroversial itu sudah disetujui sejak Agustus dan memuat kontrol ketat terkait pencegahan uang dan barang ilegal yang beredar di pasar domestik.

Maka dari itu, semua barang dan uang akan dikontrol secara langsung.  Sedangan pihak oposisi menduga Presiden Luis Arce berusaha menggunakan hukum dan sistem peradilan itu untuk meningkatkan sistem kekuasaan terpusat dan menciduk semua bentuk oposisi.

1. Demonstrasi berlangsung di sembilan wilayah Bolivia

Demonstrasi besar-besar di Bolivia kali ini mengakibatkan diblokirnya jalan utama dan lumpuhnya aktivitas lantaran adanya aksi mogok dari para pekerja transportasi. Bahkan, dilaporkan aksi protes ini sudah melumpuhkan kota-kota di Bolivia meliputi, Santa Cruz, Cochabamba, La Paz, Tarija, Potosi, Oruro dan Beni.

Sementara, kerusuhan terjadi di bagian timur Santa Cruz yang dikenal sebagai pusat perekonomian sekaligus kota terbesar di Bolivia. Kericuhan diakibatkan adanya pertentangan dari demonstran dan suporter Partai MAS (Movimiento a Socialismo) yang berusaha menyingkirkan barikade di jalanan.

Menurut keterangan dari Komite Pro Sipil Santa Cruz mengatakan bila sebanyak 90 orang ditahan di kota itu pada hari kedua demonstrasi. Sementara di Cochabamba, demonstran juga melakukan blokade dan mengakibatkan setidaknya 20 orang ditahan oleh aparat kepolisian, dilansir dari La Prensa Latina.

2. Satu orang tewas akibat kerusuhan pada demonstrasi

Associated Press melaporkan, demonstrasi besar-besaran kali ini telah mengakibatkan tewasnya seorang pendemo berusia 22 tahun di Potosi. Pemuda itu diduga tewas akibat bronchoaspiration, yang termasuk jenis penyakit sesak napas saat tengah mengunyah koka.

Korban tewas itu berada di tengah kericuhan saat mencoba untuk menyingkirkan barikade yang didirikan demonstran anti pemerintah. Komite Sipil Potosi, Juan Carlos Manuel mengungkapkan bahwa meninggalnya seorang pendemo bukan diakibatkan serangan dari aparat keamanan.

Bahkan, dilaporkan beberapa kendaraan hangus dibakar massa di Potosi dan membuat Presiden Arce membatalkan kunjungannya ke kota itu. Padahal, Arce diketahui akan merayakan satu tahun kepemimpinannya di Potosi.

3. Pemerintah sebut perwakilan oposisi lakukan aksi terorisme

Deputi Kementerian Hukum dan HAM, Cesar Siles pada Kamis (11/11/2021) mengecam aksi yang dilakukan perwakilan oposisi. Bahkan, ia menyebut aksi tersebut sebagai bentuk terorisme, provokasi, dan konspirasi di tengan demonstrasi yang berlangsung sejak Senin.

Siles juga mengungkapkan bila Komite Sipil Potosi dan Komite Sipil Pro Santa Cruz telah mendeklasikan persona non grata kepada presiden dan memberikan peringatan jika mereka akan melengserkannya. Ia juga akan menginvestigasi lebih lanjut bentuk provokasi yang dilakukan dua pejabat itu, sesuai laporan dari Prensa Latina.

Dikutip dari The Rio Times, polarisasi di Bolivia terus berlanjut dan cenderung meningkat dalam beberapa tahun ini yang mengakibatkan perpecahan dan demonstrasi besar-besaran. Sementara pihak pro pemerintah menduga aksi demonstrasi adalah usaha untuk menggoyahkan pemerintahan Arce.

Sebagai reaksi atas adanya kecurangan pemilu dalam Pemilihan umum 2019, aksi unjuk rasa dan kerusuhan terjadi di Bolivia. Dugaan kecurangan itu dipicu oleh penghentian secara mendadak penghitungan suara pemilu putaran pertama, di mana petahana Evo Morales sebelumnya memimpin dengan margin dibawah 10%.

Margin yang cukup besar (lebih dari 10%) diperlukan untuk menang sebagai presiden terpilih, dan hasil selanjutnya dari hitungan resmi, dimenangkan oleh Morales dengan selisih suara lebih dari 10 persen.