30 Singa Dibunuh Karena Terlalu Terluka Akibat Kebakaran

30 Singa Dibunuh Karena Terlalu Terluka Akibat Kebakaran

30 Singa Dibunuh Karena Terlalu Terluka Akibat Kebakaran – Singa Afrika selatan (Panthera leo melanochaita) adalah subspesies singa yang berasal dari wilayah selatan Afrika. Di bagian Afrika ini, populasi singa tersebar di Angola, Botswana, Republik Demokratik Kongo, Malawi, Mozambik, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, Zambia dan Zimbabwe, tetapi secara regional mengalami kepunahan di Lesotho.

Populasi singa di kawasan lindung yang dikelola secara intensif di Botswana, Namibia, Afrika Selatan dan Zimbabwe telah meningkat sejak pergantian abad. Sebanyak 30 singa yang hidup di salah satu penangkaran peternak di Afrika Selatan terpaksa harus dieuthanasia atau dibunuh. Tindakan itu dilakukan karena singa-singa tersebut menderita.

Society for the Prevention of Cruelty to Animals (SPCA), organisasi nirlaba yang melindungi hewan dari kekejaman dan penelantaran, menjelaskan bahwa sang pemilik telah membiarkan singa-singa kelaparan dan menderita tanpa diobati. SPCA menyebut bahwa tindakan peternak di penangkaran singa miliknya itu adalah salah satu kasus pelecehan hewan terburuk yang pernah mereka tangani.

1. Para singa terluka karena kebakaran dan kelaparan

Afrika Selatan telah lama melegalkan penangkaran singa. Di negara ini, ada sekitar 12.000 ekor singa yang berada di penangkaran. Jumlah tersebut empat kali lebih banyak dari populasi liar.

Singa-singa yang ditangkarkan digunakan untuk kepentingan ekonomi seperti perburuan dalam wilayah tertutup, kepentingan sirkus serta dijual tulangnya di pasar Asia. Dipercaya, tulang singa dapat mengobati beberapa penyakit.

Namun ketika SPCA melakukan inspeksi di salah satu penangkaran yang terletak di Bloemfontein, jantung negara bagian Free State, mereka mendapati puluhan singa terluka dan menderita. Pemiliknya tidak memberikan pelayanan medis dan singa-singa juga dalam kondisi kurus karena kelaparan.

Dilansir dari CBS News, singa-singa yang menderita disebabkan karena kebakaran hutan di penangkaran. “Pemiliknya tahu singa-singa itu terluka oleh api. Selama 5 hari mereka tidak memberikan perawatan medis apa pun. Kami tidak punya pilihan, selain mendapatkan surat perintah untuk memasuki properti itu,” kata SPCA.

Setelah mereka bisa memasuki penangkaran, “apa yang kami temukan mengejutkan sampai ke tulang,” kata mereka dalam unggahan di media sosial.

Para petugas SPCA melihat puluhan singa terbaring tak berdaya karena terluka atau terlalu lemah. Banyak yang dalam kondisi kurus karena kelaparan. Dokter hewan SPCA telah berusaha mengobati selama beberapa hari.

Tapi para petugas terpaksa harus membunuh 30 ekor singa karena mereka terlalu menderita dan tidak lagi bisa diobati.

2. Kondisi mengerikan di dalam penangkaran singa
Afrika Selatan: 30 Singa Dibunuh karena Terlalu Menderita

SPCA mendapatkan surat perintah penggeledahan dari pengadilan. Itu karena ada dugaan telah terjadi pelecehan binatang secara kejam oleh pemiliknya.

SPCA sendiri telah merilis dugaan pelecehan binatang tersebut dan saat ini masih menunggu laporan dari para dokter hewan yang telah memeriksa dan menganalisa, untuk dibuat sebagai data tambahan dalam kasus kriminalitas.

Dilansir dari Daily Mail, awalnya peternak menolak untuk dilakukan inspeksi dan mengatakan bahwa kondisi para singa baik-baik saja. Namun beberapa hari kemudian setelah digeledah, mereka mendapati pemandangan yang mengerikan.

Reinet Meyer, Inspektur SPCA menjelaskan bahwa “kami melihat bahwa singa-singa itu tidak dapat melarikan diri dari api yang menyala dan menghirup asap yang menyesakkan.

“Singa-singa itu tidak bergerak. Mereka semua berbaring di satu tempat dengan cakar mereka menghadap ke atas. Tubuh mereka yang rapuh terbakar, dan wajah mereka membawa bekas luka api yang menghancurkan beberapa hari yang lalu.”

Di salah satu kandang, Meyer mengatakan ada tiga singa jantan yang bahkan tidak bisa berdiri sama sekali karena menderita. Ketika para singa itu mencoba bangun, mereka jatuh berulang kali.

Di antara para singa yang kelaparan, bahkan mereka kemudian menjadi kanibal dengan membunuh kawannya sendiri, lalu memakan dagingnya.

Menurut CBS News, sang pemilik penangkaran telah diduga mengabaikan perawatan medis setelah kebakaran sehingga para singa akan mati “secara alami.” Dugaan selanjutnya, sang pemilik dapat menjual tulang singa itu untuk mendapatkan keuntungan.

3. Pemilik penangkaran tertawa ketika diberi peringatan

Para singa yang terluka, harus dibius satu persatu untuk diperiksa oleh dokter hewan. Beberapa singa yang terlalu menghirup banyak asap kebakaran, paru-parunya rusak parah.

30 singa yang tidak bisa disembuhkan, dieuthanasia dan dikremasi sehingga tulang belulangnya jadi abu. SPCA ingin memastikan bahwa tidak akan ada seorang pun yang bakal mendapatkan keuntungan dari kematian para singa.

Selama pemeriksaan, pengobatan dan proses euthanasia, pemilik penangkaran sama sekali tidak mau repot untuk hadir melihatnya.

Dilansir dari The South African, pemiliknya “tertawa ketika dia diberi peringatan, dan kami tidak melihatnya lagi. Kami mengeluarkan beberapa peringatan karena kekurangan air dan tempat berlindung saat kami melakukan inspeksi harian di peternakan. Pemilik menolak untuk mematuhi salah satu peringatan kami. Dia menolak mengeluarkan uang untuk singa-singa ini.”

Reniet Meyer mengatakan bahwa SPCA akan terus memantau singa-singa tersebut hingga sidang pengadilan, dan mengambil tindakan hukum jika kekejaman berlanjut.

Legalitas penangkaran singa di Afrika Selatan telah sering mendapatkan kritik. Insiden kali ini kembali mempertanyakan aturan tersebut.

Meyer mengatakan “kami mengembangkan industri, legal atau ilegal, yang menyalahgunakan hewan untuk hiburan seperti berburu, perdagangan tulang, perburuan liar, sirkus, atau memelihara mereka di kebun binatang atau sebagai hewan peliharaan. Ini harus dihentikan.”

Singa liar di Afrika Selatan saat ini diperkirakan hanya sekitar 3.500 ekor. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibanding yang ada di sekitar 250 penangkaran di seluruh negeri.

Kerabatnya mengatakan serangan pada Rabu (26/08) itu bisa saja terjadi karena hewan-hewan itu sedang bermain namun kemudian permainan mereka terlalu kasar.

Singa-singa itu telah dibius setelah serangan tersebut, dan kini mereka dibawa ke pusat spesies terancam punah.

Mathewson dikabarkan menyelamatkan singa-singa tersebut dari “perburuan tertutup”—tempat hewan-hewan diburu di area tertutup, atau dikembangbiakkan untuk diburu. Setelah hewan-hewan itu diselamatkan, Mathewson menempatkan mereka di sebuah area luas tertutup di penginapannya.

Mendiang memiliki penginapan safari terkenal bernama Lion Tree Top Lodge di Provinsi Limpopo, Afsel.

Singa-singa tersebut dilaporkan pernah menewaskan seorang pria yang bekerja di properti dekat penginapan Mathewson setelah mereka kabur dari kandang pada 2017.