27 Personel Junta Tewas Setelah di Grebek oleh Pasukan CDF

27 Personel Junta Tewas Setelah di Grebek oleh Pasukan CDF

27 Personel Junta Tewas Setelah di Grebek oleh Pasukan CDF – Pasukan Pertahanan Chinland (CDF) mengumumkan, pihaknya kini bertanggung jawab atas keamanan polisi yang membelot. Para polisi yang membelot merupakan warga etnis Chin, mencakup seorang sersan dan dua kopral, sebagaimana dilaporkan media lokal Myanmar Now, Minggu. CDF sekaligus merilis pernyataan para pembelot yang menyatakan mereka tidak ingin lagi mengabdi di bawah kediktatoran militer.

Anggota polisi tersebut membelot dua hari setelah CDF menyerang pos polisi di kota tersebut pada 13 Mei.CDF mendesak anggota kepolisian lainnya untuk membelot sesegera mungkin. Sejak kudeta militer pada 1 Februari 2021, Myanmar Now mencatat banyak anggota polisi di Negara Bagian Chin yang bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM). Perlawanan dari pasukan pejuang anti-kudeta militer di Myanmar terus berlanjut. Perlawanan tersebut semakin panas dari waktu ke waktu.

Kali ini, Pasukan Pertahanan Chin (CDF) melakukan penggerebekan terhadap junta militer Myanmar yang berada di IDNPoker negara bagian Chin. Pada hari Kamis (10/6), dalam penggerebekan yang dilakukan oleh CDF di dua tempat terpisah, mereka berhasil membunuh sebanyak 27 pasukan junta militer Myanmar. CDF adalah pasukan dari kelompok pejuang Chin yang dibentuk pada bulan April. Ini adalah salah satu kelompok pemberontak yang memiliki kaitan dengan Chin National Army yang telah lama terlibat bentrok dengan pemerintah Myanmar sejak tahun 1988.

1. Serangan balas dendam karena pasukan junta melakukan penjarahan

Sebagai bagian dari pasukan pemberontak yang telah lama berdiri, CDF sebenarnya telah memiliki banyak pengalaman bertempur secara gerilya. Hanya saja secara senjata, mereka tetap kalah canggih jika dibandingkan dengan pasukan junta Myanmar.

Meski begitu, sejak militer melakukan kudeta pada Februari lalu, gelombang perlawanan dari CDF meningkat karena mereka mendukung gerakan pembangkangan sipil yang anti-kudeta. Mereka kembali mengangkat senjata untuk gerilya melawan pasukan junta Myanmar.

Pada hari Kamis (10/6), pasukan CDF melakukan penggerebekan terhadap rombongan pasukan junta. Melansir Myanmar Now, penggerebakn CDF dilakukan di pegunungan Khualhring, di negara bagian Chin terhadap sekitar 30 pasukan junta. Sedikitnya 17 pasukan junta terbunuh dalam baku tembak selama satu jam.

Di tempat lain, tepatnya di Jalan Raya Gangaw-Hakha, sekitar 400 kilometer arah barat laut dari ibukota Naypyidaw, sebanyak 50 tentara disergap. Sedikitnya 10 tentara tewas dan sisanya mundur.

Penyergapan yang dilakukan oleh CDF adalah aksi balas dendam karena junta militer telah bertindak kejam.

2. CDF akan terus melawan karena junta menangkap rakyat Chin

Chin adalah salah satu negara bagian Myanmar yang saat ini terus memanas. Hal ini karena pasukan pemberontak terus memberikan perlawanan yang sengit kepada junta militer. Usai penggerebekan dan penyergapan yang dilakukan oleh CDF, ratusan warga segera melarikan diri dan masuk ke dalam hutan-hutan. Mereka bersembunyi karena khawatir mendapatkan serangan balasan dari junta.

CDF berjanji bahwa mereka akan terus melakukan perlawanan, berapa pun jumlah pasukan junta. Janji tersebut dibuat usai pasukan junta menangkap warga Chin karena protes anti-kudeta. CDF menuntut agar warga segera dibebaskan.

Melansir Irrawaddy, lebih dari 80 penduduk telah ditahan karena melakukan protes anti-rezim. Mereka juga ditahan karena memiliki foto atau aktivitas protes anti-rezim di ponsel dan akun media sosial mereka.

Pasukan keamanan junta di Hakha, salah satu kota besar di Chin, sering memeriksa orang-orang yang memasuki kota, serta memeriksa ponsel penduduk setempat.

Juru bicara CDF mengatakan “tidak peduli berapa banyak lagi tentara yang digunakan junta untuk melawan kami, kami akan terus melawan mereka.”

3. Bencana hak asasi manusia melanda Myanmar

Peningkatan aksi kekerasan tidak hanya terjadi di negara bagian Chin, tetapi juga di negara bagian lainnya seperti di Kayah dan Kachin. Khusus di Kayah, lebih dari 100 ribu penduduk telah mengungsi hanya dalam waktu tiga minggu terakhir. Mereka melarikan diri ke dalam hutan karena junta militer terus melancarkan aksi kekerasan.

Kepala HAM PBB, Michelle Bachelet, memperingatkan PBB bahwa telah terjadi peningkatan konflik yang menimbulkan keprihatinan mendalam di Myanmar.

Mengutip laman resmi PBB, Bachelet mengatakan “Hanya dalam waktu empat bulan, Myanmar telah berubah dari demokrasi yang rapuh menjadi bencana hak asasi manusia. Selain hilangnya nyawa, masyarakat juga mengalami dampak yang parah terhadap hak-hak sosial dan ekonomi. Kepemimpinan militer secara tunggal bertanggung jawab atas krisis ini, dan harus dimintai pertanggungjawaban.”

Merujuk pada laporan yang terpercaya, Bachelet mengatakan bahwa pasukan junta terus menggunakan senjata berat, termasuk serangan udara, terhadap kelompok bersenjata dan terhadap warga sipil dan objek sipil, termasuk gereja-gereja Kristen, sekolah dan rumah sakit.

Bachelet bahkan mengatakan jika junta militer menggunakan rakyat sipil sebagai tameng pelindung. Michelle Bachelet menyeru kekuatan regional seperti ASEAN agar mendesak pemerintahan junta militer menghentikan aksi kekerasan dan pelanggaran HAM yang terus berlangsung hingga saat ini.

Suasana pangkalan militer Myanmar di tepi Sungai Salween yang direbut kelompok pemberontak Persatuan Nasional Karen (KNU) di Provinsi Mae Hong Son, Thailand, 27 April 2021. REUTERS/Athit Perawongmetha

Pada hari Selasa anggota CDF mundur dari daerah itu ketika mereka melihat pesawat tak berawak militer memeriksa lokasi mereka, katanya. Kemudian pada hari Rabu, para pejuang menahan diri dari menyerang pasukan karena mereka berada di dekat daerah permukiman.