Warga Yahudi Tuntut Argentina Usut Pemboman di Tahun 1994

Warga Yahudi Tuntut Argentina Usut Pemboman di Tahun 1994

Warga Yahudi Tuntut Argentina Usut Pemboman di Tahun 1994 – The  pemboman AMIA adalah bunuh diri van bom serangan terhadap Asociación Mutual Israelita Argentina (AMIA; Argentina Israel Reksa Association) membangun di Buenos Aires , Argentina pada 18 Juli 1994, menewaskan 85 orang dan melukai ratusan.

Pemboman tersebut merupakan serangan  teroris paling mematikan di Argentina hingga saat ini. Argentina adalah rumah bagi komunitas Yahudi 230.000,  terbesar di Amerika Latin dan keenam di dunia di luar Israel  (lihat Demografi Argentina ). Keluarga korban peristiwa pemboman AMIA kembali menyemarakkan peringatan peristiwa yang terjadi di tahun 1994 tersebut.

Selain itu, para keluarga korban juga tengah menuntut Pemerintah Argentina untuk melakukan pengusutan insiden apk idn poker terorisme tersebut.  Pasalnya serangan kepada kelompok Yahudi di Argentina tersebut disebut sama sekali tidak ditemukan pelaku kejadian yang melakukan pemboman. Namun terdapat dugaan rezim Iran yang bertanggung jawab atas insiden ini.

1. Belum adanya pihak yang bersalah dalam insiden pemboman AMIA
Warga Yahudi Argentina Demo Tuntut Keadilan Korban Pemboman

Pada hari Minggu (18/7/2021) keluarga korban serangan bom pada Asociación Mutual Israelita Argentina (AMIA) di Buenos Aires melakukan aksi protes terkait keadilan bagi keluarga mereka. Pasalnya kejadian pemboman yang berlangsung 27 tahun lalu tersebut telah menewaskan 85 orang dan menyebabkan 300 orang terluka.

Namun selama ini komunitas Yahudi di Argentina terus melakukan protes kepada pemerintahan terkait pengusutan pelaku pemboman. Pasalnya hingga kini tidak ada seorang pun yang dikenai hukuman atas insiden terorisme yang menyasar pusat komunitas Yahudi di Argentina tersebut, dilansir dari laman The Times of Israel.

2. Adanya dugaan Iran terlibat dalam pemboman

Dilansir dari DW, terdapat hipotesis yang menyebutkan apabila aksi pengeboman AMIA ini terkait dengan Presiden Iran terdahulu bernama Ali Rafsanjani dan kelompok beraliran Sy’ah di Lebanon Hezbollah. Bahkan hipotesis tersebut juga didukung oleh pemimpin komunitas Yahudi di Argentina dan Israel.

Di sisi lain, Pemerintah Iran selama ini terus menolak investigasi kepada sejumlah mantan pejabatnya. Namun sesuai kesepakatan antara Argentina dan Iran pada 2012 pada masa kepemimpinan Cristina Kirchner (2007-2015) memungkinkan adanya investigasi di luar Argentina.

Bahkan pada tahun 2015, pengusutan pelaku pemboman sudah diupayakan oleh seorang jaksa bernama Alberto Nisman. Ia menuding Kircnher berupaya untuk mengubah perjanjian demi mendapatkan keuntungan terkait minyak. Akan tetapi sebelum berupaya menemukan bukti, Nisman diketahui tewas secara misterius di kediamannya, dikutip dari Algemeine.

3. Aksi terorisme terbesar dalam sejarah Argentina

Peristiwan pemboman AMIA yang terjadi pada 18 Juli 1994 di Buenos Aires merupakan salah satu peristiwa terorisme terbesar di negara Amerika Selatan tersebut. Sementara, aksi pemboman tersebut dilakukan dengan mobil yang terparkir di luar gedung, sama seperti kejadian pemboman di Kedubes Israel pada Maret 1992 yang menewaskan 22 orang.

Namun pada awal Maret tahun lalu, Pemerintah Argentina di bawah Presiden Alberto Fernandez mengumumkan secara resmi terkait deklasifikasi semua dokumentasi dan informasi yang berhubungan dengan serangan di AMIA, dikutip dari Anadolu Agency.

Dilansir dari The Times of Israel, Argentina sudah memasukkan Hezbollah sebagai kelompok teroris pada tahun 2019 lalu. Sementara itu, Argentina juga dikenal sebagai salah satu negara dengan komunitas Yahudi terbesar di luar Israel dengan populasi mencapai 300 ribu jiwa.

Selama bertahun-tahun, kasus ini ditandai dengan tuduhan menutup-nutupi. Semua tersangka dalam “koneksi lokal” (di antara mereka, banyak anggota Kepolisian Provinsi Buenos Aires ) dinyatakan tidak bersalah pada September 2004. Pada Agustus 2005, hakim federal Juan José Galeano, yang bertanggung jawab atas kasus tersebut, dimakzulkan dan dicopot dari jabatannya atas tuduhan penyimpangan “serius” karena kesalahan penanganan penyelidikan.  

Pada tahun 2005, Kardinal Jorge Mario Bergoglio, yang kemudian menjadi Paus Fransiskus , adalah tokoh publik pertama yang menandatangani petisi untuk keadilan dalam kasus pengeboman AMIA. Dia adalah salah satu penandatangan dokumen yang disebut “85 korban, 85 tanda tangan” sebagai bagian dari peringatan 11 tahun pengeboman.