Terduga Teroris Ditangkap Oleh Densus 88 di Daerah Sukabumi

Terduga Teroris Ditangkap Oleh Densus 88 di Daerah Sukabumi

Terduga Teroris Ditangkap Oleh Densus 88 di Daerah Sukabumi – Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik), dan teror adalah perbuatan semena mena, kejam, sadis, bengis, dalam usaha menciptakan rasa ketakutan.

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta sering kali merupakan warga sipil. Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali menangkap seorang terduga teroris yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) berinisial YI.

YI merupakan satu dari delapan terduga teroris yang ditetapkan sebagai DPO pada April 2021. Delapan terduga teroris ini merupakan pengembangan penangkapan di wilayah Club388 Indonesia Condet, Jakarta Timur dan Bekasi.

1. YI merupakan ketua tim pengamanan Petamburan

Ahmad menjelaskan terduga teroris berinisial YI merupakan warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia ditangkap di Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi.

“Ia berperan sebagai ketua tim pengamanan Petamburan,” kata Ramadhan.

2. YI ikut membuat bom di rumah Husein Hasni

YI, menurut Ramadhan, ikut merencanakan dan membuat bom di rumah Husein Hasni, ikut dalam percobaan bom di Ciampea Bogor, dan mengetahui pembelian remote serta aseton.

“Selanjutnya tersangka akan dibawa ke Polda Metro Jaya untuk diintrogasi,” ujarnya.

3. Densus 88 telah menangkap 5 dari 8 DPO

Dari delapan DPO terduga teroris yang telah diumumkan sebelumnya, lima orang ditangkap dan menyerahkan diri, mereka adalah AN, W, NF, SB, dan YI.

Pemburuan terduga teroris ini terkait dengan penangkapan empat terduga teroris di wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang pada 29 Maret 2021 lalu. Keempat terduga tersebut adalah BS, AJ, ZA dan WJ.

Tiga dari empat tersangka teroris mengaku simpatisan organisasi yang dilarang oleh pemerintah.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan “teroris” dan “terorisme”, para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata terrorism: “Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin  adalah jauh dari tindakan terorisme yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang”. Padahal Terorisme sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.