Rusia Menilai Drone Turki Mengancam Keamanan dan Stabilitas

Rusia Menilai Drone Turki Mengancam Keamanan dan Stabilitas

Rusia Menilai Drone Turki Mengancam Keamanan dan Stabilitas – Rusia khawatir dengan keputusan Turki menjual drone ke Ukraina. Drone tempur buatan Turki berisiko membuat kacau situasi di Ukraina. Ketegangan Rusia dengan Ukraina meningkat sejak pencaplokan Semenanjung Krimea pada 2014.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengomentari pengerahan drone buatan Turki Bayraktar TB2 oleh Ukraina untuk menyerang posisi kelompok separatis yang didukung Rusia di perbatasan. Rusia menilai drone milik Turki yang dibeli Ukraina mengancam keamanan dan stabilitas di wilayah Ukraina timur. Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara Kremlim, Dmitry Peskov, setelah Rusia mendapati kabar bahwa Ukraina telah mengerahkan pesawat nirawak Bayraktar TB2 buatan Turki untuk keperluan tempur.

DikutipTASS, Kementerian Pertahanan Ukraina sebelumnya menyetujui pembelian Bayraktar TB2 dan bom presisi MAM-L dari Turki pada 2019. Total anggaran yang dikeluarkan Ukraina mencapai 69 juta dolar AS (setara Rp979 miliar).

1. Kremlin khawatir hubungan Rusia-Turki memburuk karena ulah Ukraina
Rusia Gak Mau Hubungan dengan Turki Rusak Gegara Jual Drone ke Ukraina

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Rusia-Turki jarang terekspos di panggung global. Meskipun keduanya sempat saling berselisih karena Suriah, namun Rusia dan Turki menunjukkan kedekatan yang serius pada bidang pertahanan serta energi.

Melansir Reuters, Peskov menjelaskan bahwa Rusia tidak ingin hubungan spesial Rusia-Turki teranam akibat drone tempur Ankara digunakan oleh Ukraina.

“Kami memiliki hubungan yang spesial dan baik bersama Turki. Tapi di kasus ini, sayangnya, membenarkan kekhawatiran kami bahwa dengan pengiriman alutsista sejenis itu (drone tempur) ke militer Ukraina, maka hal tersebut berpotensi mengancam situasi keamanan di garis depan (Ukraina Timur),” ujar Peskov.

2. Militer Ukraina mulai menggempur posisi pertahanan separatis di Daerah Donbass

Setelah satu tahun berlatih menggunakan pesawat nirawak tempur Bayraktar TB2, akhirnya alutsista taktis tersebut digunakan militer Ukraina.

Berdasarkan laporan resmi Angkatan Bersenjata Ukraina pada Selasa (26/10/2021), pesawat nirawak Ukraina dilaporkan berhasil mengahancurkan artileri D-30 milik pasukan separatis di Kota Hranitne yang terletak di Wilayah Donbass, seperti diberitakan Moscow Times.

Militer Ukraina menggarisbawahi penggunaan drone tersebut sebagai bentuk pertahanan diri, sebab garis pertahanan mereka saat ini sedang digempur oleh pasukan separatis.

Sekalipun serangan pesawat nirawak tempur Ukraina dikabarkan berhasil, namun perwakilan pasukan separatis memastikan jika tidak ada korban atau kerugian militer maupun sipil.

3. Pihak separatis memprotes keras serangan drone Ukraina
Rusia Gak Mau Hubungan dengan Turki Rusak Gegara Jual Drone ke Ukraina

Pemerintah Rusia diketahui telah lama memprotes pembelian pesawat nirawak oleh Kiev, karena khawatir akan digunakan untuk melawan pasukan separatis. Kekhawatiran itu ternyata benar-benar terjadi sebagaimana militer Ukraina sudah menggunakannya di Ukraina timur.

Pemerintahan separatis di Ukraina timur, Republik Rakyat Donetsk and Republik Rakyat Luhansk, memprotes dan menuduh penyerangan pesawat nirawak tempur Ukraina sebagai pelanggaran persetujuan gencatan senjata.

Gencatan senjata di Ukraina timur sendiri sering mengalami pelanggaran dari kedua belah pihak. Sekarang, dengan adanya partisipasi aktif drone tempur Ukraina, maka situasi konflik untuk memuncak semakin memungkinkan.

Kelompok separatis yang didukung Rusia memerangi pasukan pemerintah di wilayah Donbass, Ukraina, sejak 2014. Menurut Ukraina sedikitnya 14.000 orang tewas sejak konflik tersebut.

Ukraina membeli drone Bayraktar Turki untuk memperkuat militernya, bahkan telah menjalin kesepakatan untuk memproduksi drone serupa di pabrik dekat Ibu Kota Kiev.