Pengakuan Mengejutkan Seorang Ilmuwan yang Bekerja di Pfizer

Pengakuan Mengejutkan Seorang Ilmuwan yang Bekerja di Pfizer

Pengakuan Mengejutkan Seorang Ilmuwan yang Bekerja di Pfizer – Pfizer Inc. adalah sebuah perusahaan farmasi asal Amerika. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia dan menempati peringkat ke-57 dalam daftar Fortune 500 tahun 2018. Berkantor pusat di New York City, Pfizer mengembangkan dan memproduksi obat dan vaksin untuk berbagai macam disiplin medis, termasuk imunologi, onkologi, kardiologi, endokrinologi, dan neurologi.

Project Veritas, kelompok aktivis sayap kanan, merilis video penyamaran yang berfokus pada tiga ilmuwan dari perusahaan produsen vaksin COVID-19 Pfizer. Salah satu pengakuan kontroversial dari ilmuwan tersebut adalah perusahaan vaksin meraup untung dari pandemik COVID-19.

Pengakuan kontroversial lainnya datang dari Nick Karl, ahli biokimia di Pfizer, yang juga ikut mengembangkan vaksin. Dia mengatakan antibodi yang diproduksi secara alami jauh lebih banyak dan efektif untuk menangkal virus corona.

1. Menentang kewajiban vaksin untuk semua orang

Pengakuan dalam video berdurasi hampir 10 menit itu, direkam secara sembunyi-sembunyi. Selain Croce dan Karl, ada pula Rahul Khandke.

Selain mengkritik soal orientasi perusahaan dan perbandingan efektivitas antibodi, mereka juga tidak sepakat dengan kebijakan wajib vaksin. Lebih dari itu, mereka menentang penerapan sertifikat atau kartu vaksin, yang berarti membatasi mobilitas dan ruang lingkup seseorang yang belum divaksinasi.

“Kartu vaksin di sangat mereportkan. Orang yang tidak divaksinasi akan sampai pada titik, ‘sialan, aku akan mengambil vaksin.’ Sebab orang yang tidak divaksinasi dibatasi untuk melakukan apa pun. Dan orang yang divaksinasi diizinkan melakukan apa pun yang mereka inginkan,” beber Karl.

2. Antibodi alami jauh lebih efektif daripada antibodi vaksin

Antibodi Covid-19 Alami dan Antibodi dari Vaksin, Adakah Bedanya? Ini  Penjelasan Ahli

Klip lainnya memperlihatkan penuturan Croce soal efektivitas antibodi yang dihasilkan dari vaksin. Menurut dia, di tengah lonjakan infeksi akibat varian Delta yang lebih menular dan berbahaya, sebenarnya kenaikan penularan disebabkan oleh efektivitas vaksin yang berkurang.

“Bukan karena variannya, kebanyakan karena imun. Pada dasarnya antibodi mereka berkurang. Jadi mereka tidak memiliki khasiat 95 persen, lebih seperti 70 persen. Jadi (kalau tidak terserang virus corona), Anda sebenarnya sedang dilindungi oleh respons alami,” beber dia.

“Kami diajarkan untuk mengampanyekan ‘vaksin lebih aman daripada benar-benar terkena COVID’. Kami harus melakukan begitu banyak seminar tentang ini,” ujarnya.

“Kami harus duduk di sana selama berjam-jam, mendengarkan ‘kamu tidak boleh membicarakan ini dan itu di depan umum’,” ungkap Khandke soal upaya perusahaan supaya banyak orang yang semakin ingin divaksinasi.

3. Pfizer disebut meraup keuntungan dari COVID-19
Pengakuan Mengejutkan Ilmuwan Pfizer: Saya Kerja di Perusahaan Jahat

Menurut Croce, penerapan sertifikat vaksin merupakan strategi pemerintah, yang tentunya menguntungkan perusahaan, agar semua orang mengambil vaksin. Dia juga meyebut bahwa perusahaannya meraup keuntungan hingga 15 miliar dolar AS tahun lalu (Rp214 triliun).

“Pada dasarnya mereka mencoba melacak semua orang yang telah divaksinasi versus sensus berapa banyak orang yang benar-benar dilaporkan. Mereka (perusahaan) mencoba untuk mendapatkan nomor mereka. Tidak ada yang berhak bertanya apakah Anda sudah divaksinasi. Ini adalah pelanggaran privasi.

“Maksud saya, saya masih merasa seperti saya bekerja untuk perusahaan jahat karena pada akhirnya berujung pada keuntungan. Saya di sana untuk membantu orang, bukan untuk menghasilkan jutaan dolar. Jadi maksud saya, itulah dilema moral,” sambung dia.

4. Project Veritas kerap meluncurkan dokumenter kontroversial

Soal Vaksin Nusantara, BPOM Temukan Banyak Kejanggalan - Ekonomi Bisnis.com

Bukan kali pertama Project Veritas memproduksi dokumenter yang konterovesial. Pada 2020, mereka menuduh Ilham Omar mengumpulkan surat suara ilegal untuk mengamankan posisi parlemen.

Hal yang menarik adalah, sebagaimana diberitakan The New York Times, video yang dirilis tanpa bukti dan proses verifikasi diunggah lebih cepat dari penguman. Semula, melalui keterangan yang dikirim oleh James O’Keefe, pendiri Project Veritas, video akan dirilis pada Senin, 28 September 2020. Tetapi, mereka justru merilisnya pada Minggu atau satu hari sebelum pengumuman resmi.

Project Veritas menurunkan video satu hari lebih cepat, diduga karena pada hari Senin The New York Times akan merilis laporan investigasi soal pajak mantan Presiden Donald Trump. Pada beberapa video, terlihat bahwa muatan konten Project Veritas berpihak kepada Trump.

“Ini adalah contoh yang bagus tentang seperti apa kampanye disinformasi yang terkoordinasi,” kata Alex Santos, peneliti internet di Stanford Internet Observatory.

Dikutip dari Forbes, akun Twitter O’Keefe juga sempat ditangguhkan karena dianggap menyebarkan berita bohong. Selain itu, Project Veritas juga dicurigai memanfaatkan buzzer untuk membuat konten-kontennya viral dan mengalihkan pembicraan di media sosial.

Pada kasus pengakuan mengejutkan ilmuwan Pfizer, mereka juga tidak membuktikan bahwa tiga orang yang diwawancarai adalah staf perusahaan tersebut. Mereka bahkan tidak meminta tanggapan komentar dari Pfizer.

5. Vaksinasi pencegah gejala parah COVID-19
Kabar Desa

Terlepas dari klaim Project Veritas, vaksinasi tetap menjadi salah satu langkah utama mencegah kematian akibat COVID-19.

Ketua Tim Peneliti Efektivitas Vaksin Kemenkes Pandji Dhewantara mengatakan, hasil kajian cepat menyimpulkan bahwa vaksinasi dosis lengkap secara signifikan menurunkan risiko dan mencegah COVID-19 bergejala.

“Vaksinasi menurunkan risiko perawatan dan kematian sampai 98 persen, jauh lebih besar dibandingkan pada individu yang baru menerima dosis pertama dimana hanya efektif menurunkan sekitar 13 persen risiko COVID-19 bergejala,” katanya dikutip dari portal resmi Kemenkes.

Kajian cepat dilakukan pada periode 13 Januari sampai 18 Maret 2021 dengan fokus pada tenaga kesehatan di wilayah DKI Jakarta. Kajian itu melibatkan lebih dari 128 ribu orang dengan usia di atas 18 tahun dan rata-rata dari partisipan yang diikutkan 60 persen perempuan dengan rata-rata usia di Kisaran 30 tahun.

Penelitian ini berfokus pada kelompok tenaga kesehatan baik yang belum divaksinasi maupun yang sudah di vaksinasi, baik dosis pertama maupun yang sudah vaksinasi lengkap sebanyak 2 dosis. Kajian cepat ini menggunakan desain Kohort Retrospektif, yakni menelusuri riwayat setiap individu yang dilibatkan dalam penelitian ini.

“Kajian cepat ini dilakukan berdasarkan data-data sekunder. Jadi data-data yang kita olah itu merupakan data dari berbagai sumber yang ada di Kementerian Kesehatan,” tutur Panji.

Pada tahun 2016, Pfizer Inc. diperkirakan akan bergabung dengan Allergan  untuk membentuk “Pfizer plc”, dalam sebuah kesepakatan yang diperkirakan bernilai US$160 milyar. Namun penggabungan tersebut dibatalkan pada bulan April 2016, karena adanya aturan baru dari Departemen Keuangan Amerika Serikat mengenai inversi pajak, sebuah metode penghindaran pajak yang dilakukan dengan cara bergabung dengan perusahaan dari luar Amerika Serikat.

Pada tanggal 19 Desember 2018, Pfizer mengumumkan penggabungan divisi perawatan kesehatan ritel miliknya dengan GlaxoSmithKline, dimana GlaxoSmithKline akan memegang 68% saham perusahaan tersebut. Pfizer merupakan salah satu komponen dari Dow Jones Industrial Average mulai tahun 2004 hingga 2020, setelah perusahaan ini digantikan oleh Amgen. Penggantian tersebut mulai berlaku pada tanggal 31 Agustus 2020