Para Pemimpin Dunia Berjanji Stop Penggundulan Hutan di 2030

Para Pemimpin Dunia Berjanji Stop Penggundulan Hutan di 2030

Para Pemimpin Dunia Berjanji Stop Penggundulan Hutan di 2030 – Deforestasi atau penggundulan hutan adalah kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon (stand of trees) sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nonhutan (non-forest use), seperti pertanian dan perkebunan, peternakan, atau permukiman.

Lebih dari 100 pemimpin negara, termasuk Indonesia, berjanji untuk menghentikan deforestasi atau penggundulan hutan pada 2030. Pernyataan yang disampaikan malam itu didukung dengan pendanaan negara dan swasta senilai 19 miliar dolar AS (sekitar Rp270,8 triliun), demi melindungi dan memulihkan hutan.

Indonesia, Brasil, dan Republik Demokratik Kongo, tiga negara yang secara total memiliki 85 persen hutan dunia, mendukung komitmen tersebut. Melalui keterangan yang dirilis oleh Kantor Perdana Menteri Inggris, atas nama pemimpin dari 100 negara, deklarasi di COP26 itu akan mencakup hutan seluas 20,9 juta kilometer per segi.

1. Para pemimpin dunia sepakat beri peran lebih kepada masyarakat adat
Dorong Penguatan UMKM dan Perempuan, 6 Potret Presiden Joko Widodo Hadiri  KTT G20 di Roma

Kemudian, negara bersama swasta juga akan meluncurkan sejumlah inisiatif tambahan untuk 2030 bebas penebangan hutan. Salah satunya adalah janji penyediaan dana senilai 1 miliar dolar AS bagi masyarakat adat, penjaga hutan, dan kegiatan pertanian berkelanjutan.

Menurut para pakar lingkungan, masyarakat adat adalah pelindung terbaik hutan. Masyarakat itu sering kali melawan para penebang hutan dan perampas tanah yang merambah hutan dengan menggunakan kekerasan.

Kesepakatan 2030 merupakan perluasan dari komitmen serupa yang pernah dibuat 40 negara pada Deklarasi Hutan New York 2014. Pada perjanjian itu, 12 negara termasuk Inggris juga berjanji menyediakan dana senilai 8,75 miliar pound (Rp169,4 triliun) untuk perioden 2021-2025.

Dana itu akan disalurkan kepada negara-negara berkembang, untuk membantu mereka menjalankan berbagai langkah, termasuk upaya memulihkan lahan rusak serta mengatasi kebakaran hutan.

2. Negara dan swasta janji ikut danai program penghijauan
COP26: 100 Pemimpin Dunia Sepakat Setop Deforestasi pada 2030

Lebih dari 30 investor swasta, termasuk Aviva, Schroders, dan AXA, akan menyediakan dana sedikitnya 5,3 miliar pound atau Rp103,17 triliun. Para investor, yang mewakili kepemilikan 8,7 triliun dolar AS dalam aset yang dikelola, juga berjanji pada 2025 tidak akan lagi berinvestasi pada kegiatan penggundulan hutan.

Lima negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, serta sekelompok badan amal global pada Selasa juga menjanjikan pendanaan sebesar 1,7 miliar dolar atau sekitar Rp24,2 triliun, demi mendukung konservasi hutan masyarakat adat serta memperkuat hak-hak tanah mereka.

3. Sekitar 258 ribu kilometer per segi lahan hutan hilang pada 2020
COP26: 100 Pemimpin Dunia Sepakat Setop Deforestasi pada 2030

Berdasarkan penelitian World Resources Institute (WRI), hutan mampu menyerap 30 persen emisi karbondioksida. Hutan berfungsi untuk menyerap emisi dari atmosfer dan mencegah gas buangan itu menimbulkan pemanasan suhu. Sayangnya, hutan yang merupakan penyangga iklim secara alami itu dengan cepat menghilang. Data WRI Juga menunjukkan, setidaknya dunia telah kehilangan 258 ribu kilometer per segi hutan pada 2020.

Istilah deforestasi sering disalahartikan untuk menggambarkan kegiatan penebangan yang semua pohonnya di suatu daerah ditebang habis. Namun, di daerah beriklim ugahari yang cukup lengas (temperate mesic climate), penebangan semua pohon—sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan kehutanan yang berkelanjutan (sustainable forestry)—tepatnya disebut sebagai ‘panen permudaan’ (harvest regeneration). Di daerah tersebut, permudaan alami oleh tegakan hutan biasanya tidak akan terjadi tanpa gangguan, baik secara alami maupun akibat manusia.