Negara Singapura Mengklaim Berhasil Mengendalikan COVID-19

Negara Singapura Mengklaim Berhasil Mengendalikan COVID-19

Negara Singapura Mengklaim Berhasil Mengendalikan COVID-19 – Dubes RI untuk Singapura, Suryo Pratomo, menjelaskan betapa ketatnya penegakan protokol kesehatan di negara yang memiliki julukan Kota Singa itu. Saat ini, Singapura menjadi salah satu negara di Asia yang berhasil menekan kasus penularan virus Corona COVID-19. Dijelaskan Suryo, Singapura memanfaatkan para relawan dari masyarakat umum untuk mengawasi pelanggaran-pelanggaran protokol kesehatan di negaranya.

Apabila terjadi pelanggaran, mereka akan menegur dan melaporkannya ke kepolisian setempat. Sejumlah aturan protokol kesehatan di Singapura di antaranya wajib menggunakan masker, menjaga jarak, dan aktivitas berkumpul dibatasi maksimal 8 orang. Apabila melanggar, mereka akan dikenai denda sebanyak SGD 300 atau sekitar Rp 3 juta.Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan bahwa Singapura telah mampu mengendalikan penularan COVID-19.

Jika tidak ada penularan dalam jumlah besar dan angka infeksi terus menurun, maka pemerintah akan melonggarkan pembatasan pada 13 Juni 2021. Keterangan Lee yang disiarkan secara langsung melalui Download IDNPlay Apk televisi nasional menjadi pembaruan informasi yang pertama, sejak Singapura memberlakukan pembatasan baru selama hampir tiga minggu.

1. Singapura berada pada jalur yang tepat untuk mengakhiri pandemik
Singapura Klaim Berhasil Mengendalikan Pandemik COVID-19

Lebih lanjut, kata Lee, saat ini Singapura berada pada jalur yang tepat untuk mengakhiri pandemik COVID-19. Situasinya jauh lebih baik daripada tahun lalu. Klaim itu tidak lepas dari kemampuan Singapura dalam melakukan pengujian dan pelacakan kontak, ditambah program vaksinasi yang semakin cepat.

Kendati begitu, kemunculan berbagai varian baru corona menyebabkan angka penularan di Singapura relatif meningkat lagi. Alhasil, pemerintah dituntut untuk meningkatkan intensitas pengujian, pelacakan kontak, dan vaksinasi.

Ke depannya, Lee mewanti-wanti, tes corona akan menjadi kebiasaan baru dengan berbagai alternatif pengujian, mulai dari tes cepat antigen, tes swab PCR, atau bahkan tes mandiri.

“Alternatif tes PCR ini membantu kami mendeteksi dan mengisolasi orang dengan cepat ketika mereka paling menular. Ini akan sangat membantu dalam memperlambat penyebaran COVID-19. Anda harus mengharapkan pengujian rutin, berskala besar, cepat, dan sederhana menjadi bagian dari normal baru kami,” katanya.

“Selanjutnya kami tidak hanya akan menguji untuk mengidentifikasi infeksi ketika kasus baru muncul. Kami juga akan secara rutin dan teratur menguji orang-orang yang terlihat baik, dalam pekerjaan normal atau lingkungan sosial atau komunitas, untuk membuat tempat-tempat ini aman,” sambung dia.

2. Mempercepat vaksinasi untuk anak-anak

Daftar Imunisasi Wajib yang Harus Didapat Si Kecil - Alodokter

Kampanye vaksinasi di Singapura telah mengalami kemajuan sejak Desember. Lee berencana untuk mempercepat vaksinasi dalam dua bulan ke depan. Saat ini, Singapura telah memiliki 40 pusat vaksinasi di seluruh wilayah, namun kendala untuk mencapai kekebalan komunitas adalah pasokan vaksin.

Kabar baiknya, berdasarkan informasi yang disampaikan satgas penanganan COVID-19, otoritas kesehatan telah menerima konfirmasi pengiriman vaksin yang lebih cepat selama dua bulan ke depan. Dengan stok vaksin yang tersedia, pemerintah mulai mangagendakan vaksinasi untuk anak-anak berusia 12 tahun.

“Dalam gelombang terbaru ini, kami telah melihat lebih banyak kasus anak-anak yang terinfeksi, di sekolah dan pusat pendidikan. Anak-anak tidak sakit parah, tetapi orang tua secara alami khawatir. Oleh karena itu, libur bulan Juni akan kita manfaatkan untuk memvaksinasi siswa,” ujarnya.

3. Mengingatkan ancaman virus corona yang akan menjadi endemik

Virus Corona Varian Baru dari Inggris Masuk ke Singapura

Kepada publik, Lee mengingatkan bahwa virus corona tidak akan menghilang. Virus itu akan menjadi endemik selayaknya penyakit flu atau demam. Dengan kata lain, bukan tidak mungkin Singapura akan menghadapi COVID-19 lagi, meski virus itu sudah tidak lagi ditetapkan sebagai pandemik.

“Itu akan tetap bersama umat manusia dan menjadi endemik. Virus ini akan terus beredar di kantong populasi global selama bertahun-tahun yang akan datang,” kata Lee.

“Tujuan kami harus menjaga komunitas secara keseluruhan aman, sambil menerima bahwa beberapa orang mungkin terinfeksi sesekali. Sama seperti yang kami lakukan dengan flu biasa atau demam berdarah, yang sekarang kami tangani melalui langkah-langkah kesehatan masyarakat dan tindakan pencegahan pribadi,” tutup dia.

Tak hanya itu, denda ini bersifat progresif, artinya, semakin sering melakukan pelanggaran protokol kesehatan, maka dendanya akan terus bertambah sebanyak dua kali lipat dari jumlah yang harus dibayar sebelumnya.

“Kalau orang itu kedua kali melakukan pelanggaran yang sama, maka dendanya dinaikkan dua kali lipat jadi 600 dolar, kalau ketiga kali melanggar juga, maka dinaikkan lagi menjadi 1.200,” jelasnya.

Menurut Suryo, tegasnya penegakan hukum di Singapura membuat warganya menjadi patuh dan enggan untuk melanggar protokol kesehatan. “Jadi sekali lagi itulah mengapa Singapura berhasil menurunkan kurva penularan (COVID-19),” ujarnya.