Nasib Para Guru dan Murid Perempuan yang Dikeluarkan Taliban

Nasib Para Guru dan Murid Perempuan yang Dikeluarkan Taliban

Nasib Para Guru dan Murid Perempuan yang Dikeluarkan Taliban – Sekitar 100 dari 700 jurnalis perempuan di Kabul, Afghanistan masih bekerja di stasiun radio atau TV swasta pasca ibu kota diambil alih oleh pasukan Taliban. Data tersebut disampaikan oleh The Center for the Protection of Afghan Women Journalists.

Diketahui perusahaan media di Kabul yang mempekerjakan 1080 perempuan kini hanya mempekerjakan 700 orang perempuan sebagai jurnalis. Melansir dari laman insider, diketahui hanya 76 perempuan yang bekerja, 39 di antaranya berprofesi sebagai jurnalis.

Kelompok Taliban pada waktu setempat mengambil keputusan untuk mengeluarkan semua murid dan guru wanita Juga dari sekolah dengan alasan demi keamanan. Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan sekolah khusus wanita akan dibuka.

1. Para orangtua siswi merasa prospek ke depannya begitu suram

Dilansir dari BBC, Taliban telah mengeluarkan murid dan guru wanita dari sekolah menengah di Afghanistan, dengan hanya mengizinkan murid dan guru laki-laki ke sekolah.

Banyak yang merasa khawatir akan kembalinya rezim tahun 1990an ketika Taliban saat itu sangat membatasi hak-hak anak wanita dan wanita lainnya.

Di bawah pemerintahan baru mereka, para pejabat Taliban mengatakan bahwa wanita akan diizinkan untuk belajar dan bekerja sesuai dengan interpretasi kelompok tersebut terhadap hukum Islam.

Tetapi pekerja wanita telah diberitahu untuk tinggal di rumah hingga situasi keamanan membaik dan pejuang Taliban telah memukuli wanita yang memprotes sementara yang semuanya merupakan laki-laki.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan menjelang pembukaan kembali sekolah-sekolah di Afghanistan pada Sabtu setempat mengatakan semua guru dan siswa laki-laki harus menghadiri lembaga pendidikan mereka.

Sekolah menengah biasanya untuk siswa berusia antara 13-18 tahun dan sebagian besar terpisah.

Para siswi dan orang tua mereka merasa prospek untuk mereka suram. Salah seorang siswi yang tidak diketahui identitasnya mengatakan ia sangat khawatir mengenai masa depannya dan ia memiliki cita-cita menjadi pengacara.

2. Tak lama, kelompok Taliban mengklarifikasi larangan tersebut

Tak lama kemudian, kelompok Taliban membantah klaim bahwa wanita Afghanistan akan dilarang dari sekolah menengah, mereka mengklaim perlu menyiapkan sistem transportasi yang aman untuk siswa wanita sebelum mengizinkan mereka kembali ke ruang kelas.

Pengumuman tersebut tidak menyebutkan siswi sama sekali, sehingga menimbulkan
kekhawatian bahwa siswi akan dikeluarkan dari pendidikan menengah.

Sebelumnya, para pemimpin Taliban telah berulang kali berjanji untuk menghormati hak-hak wanita, yang bersikeras secara terbuka bahwa wanita akan memainkan peran penting dalam masyarakat dan memiliki akses ke pendidikan.

Akan tetapi, fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya, di mana wanita telah sepenuhnya dikeluarkan dari pemerintahan garis keras yang baru itu.

Sementara di sisi lain, wanita masih diizinkan untuk melanjutkan pendidikan perguruan tinggi mereka dan Taliban telah mengamanatkan pemisahan jenis kelamin di ruang kelas serta mengatakan mahasiswi, dosen, dan karyawan wanita harus mengenakan jilbab sesuai dengan penerapan hukum setempat.

Kepala UNICEF, Henrietta Foe, mengatakan organisasi itu sangat khawatir siswi akan dikeluarkan dari pendidikan.

Menurutnya, sangat penting bahwa semua siswi, termasuk siswi yang lebih tua, dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa penundaan lebih lanjut dan untuk itu, pihaknya membutuhkan seorang guru wanita untuk melanjutkan mengajar.

3. Sebelum kembali dikuasai Taliban, Afghanistan pernah mengalami kemajuan besar dalam pendidikan bagi wanita

Sebelum kembali dikuasai Taliban, kemajuan besar telah dibuat dalam meningkatnya pendaftaran pendidikan dan tingkat melek huruf di Afghanistan, terutama untuk kaum wanita.

Jumlah siswi di sekolah dasar meningkat dari hampir nol menjadi 2,5 juta, sementara tingkat melek huruf wanita Afghanistan hampir dua kali lipat dalam satu dekade menjadi 30 persen.

Namun, banyak keuntungan telah dibuat di beberapa wilayah di Afghanistan.

Mantan Juru Bicara Kementerian Pendidikan Afghanistan, Nororya Nizhat, mengatakan ini adalah kemunduran dalam pendidikan para wanita Afghanistan.

Ia menambahkan hal ini mengingatkan semua orang tentang apa yang Taliban lakukan selama tahun 90an lalu dan generasinya berakhir dengan generasi wanita yang buta huruf dan tidak berpendidikan.

Beberapa wanita mengatakan mereka telah menyerah pada status pendidikan mereka, karena takut akan aturan baru Taliban dan masa lalu mereka yang brutal.

Namun terlepas dari represi dan rekam jejak kebrutalan Taliban, para wanita Afghanistan mengatakan mereka bertekad untuk terus berjuang demi haknya.

Taliban diketahui pernah berjanji akan menghormati hak-hak perempuan sesuai dengan hukum Islam dan menggunakan cara yang lebih moderat. Namun banyak perempuan Afghanistan yang tidak percaya dan takut jika Taliban akan kembali mewujudkan aturan lama seperti melarang perempuan bekerja dan memberlakukan hukuman keras seperti rajam.

Ternyata hal tersebut juga dirasakan oleh para jurnalis perempuan. Berdasarkan data yang disampaikan Reporters Without Borders for Press Freedom (RSF), menunjukkan banyak jurnalis perempuan yang dipaksa untuk berhenti bekerja. RSF juga menyebut banyak jurnalis perempuan mengalami pelecehan dan dihentikan begitu saja setelah Taliban berkuasa. Salah seorang reporter perempuan dari kantor berita independen Pajhwok, Nahid Bashardost juga memberikan kesaksiannya.

Perempuan itu mengaku dipukuli oleh pasukan Taliban karena memberitakan kejadian di dekat Bandara Hamid Karzai di Kabul pada 25 Agustus lalu. Beberapa jurnalis perempuan juga mengatakan kepada RSF bahwa pasukan Taliban telah ditempatkan di luar tempat kerja untuk menghentikan aktivitas peliputan berita yang dilakukan jurnalis perempuan.