Menteri Iklim Italia Menerima Kritikan Aktivis Iklim Swedia

Menteri Iklim Italia Menerima Kritikan Aktivis Iklim Swedia

Menteri Iklim Italia Menerima Kritikan Aktivis Iklim Swedia – Aktivis lingkungan hidup Greta Thunberg menyebut politikus termasuk para pemimpin di Swedia, masih menyangkal ancaman dari perubahan iklim.

Kritik itu disampaikan usai bertemu dengan Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven. Menteri Iklim Italia, Roberto Cingolani, akhirnya menerima kritikan dari aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg.

Sebelumnya, Thunberg menyebut komitmen para pemimpin dunia soal perubahan iklim hanya sebatas jargon belaka. Selain itu, pemimpin Katolik dunia Paus Fransiskus juga memuji keberanian para aktivis iklim yang berani menyuarakan tentang iklim dunia saat ini.

1. Bahasa Thunberg provokatif tapi pesannya benar

Dilansir dari BBC, Cingolani mengatakan bahwa Thunberg telah mengangkat masalah serius dan mengakui bahwa jajarannya tidak bekerja secara optimal.

Thunberg juga mengkritik mereka yang menginginkan energi terbarukan, tetapi tidak ingin pembangkit listrik di halaman belakang rumah mereka.

Cingolani berbicara saat para Menteri Iklim dunia berkumpul di Milan, Italia, untuk pembicaraan terakhir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelum digelarnya COP26 di Glasgow, Skotlandia.

Mereka berada di bawah tekanan untuk membuka jalan bagi atasan mereka, Presiden, serta Perdana Menteri dunia, yang akan tiba di Glasgow pada awal November 2021.

Menteri Iklim Italia itu mengatakan, kendati bahasa yang disampaikan terkesan provokatif, namun pesannya yang disampaikan benar.

Kemudian, ia juga mengatakanm pertemuan COP26 harus secara serius memperkuat bantuan keuangan ke negara-negara yang rentan, mempercepat penghapusan karbon dan batu bara, serta berusaha untuk menjaga suhu global pada ambang sekitar 1,5 derajat Celcius.

Dia juga memperingatkan bahwa sikap di antara populasi global, termasuk yang dia sebut di masa lalu sebagai pemerhati lingkungan yang radikal, harus diubah.

2. Sebelumnya, Thunberg mengecam politisi gagal bertindak atas perubahan iklim dan menggambarkan janji mereka selama 30 tahun hanya omong kosong

Pada Selasa (28/9) lalu, Thunberg mengecam para pemimpin dunia dengan menyebut mereka sebagai politisi gagal. Pernyataan itu merupakan kritik Thunberg atas janji-janji perubahan iklim selama 30 tahun yang tidak lebih sekadar omong kosong.

Thunberg, yang saat ini berusia 18 tahun, mengatakan meskipun negara-negara di seluruh dunia bersumpah untuk memenuhi target ambisius, krisis iklim justru terus meningkat.

Ia juga merujuk pada pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dengan mengatakan, “bangun kembali dengan lebih baik, bla bla bla”. Thunberg menilai mereka menggunakan ungkapan itu ketika berbicara mengenai visi mereka untuk masa depan.

Tak hanya itu, Thunberg juga memunculkan kembali pernyataan masa lalu dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada 2018 lalu tentang “tidak ada planet B”. Pernyataan itu disampaikan untuk menyerukan kerja sama dalam mengurangi emisi karbon dan meyelamatkan bumi.

Menurut dia, jargon-jargon semacam itu terkean hebat, tapi sejauh ini tidak ada tindakan konkret. Thunberg mendorong para pemimpin dunia untuk menemukan transisi yang mulus menuju ekonomi rendah karbon.

Aktivis iklim asal Uganda, Vanessa Nakate, juga berbicara di KTT dengan mengatakan bahwa negara-negara yang rentan masih menunggu dana sebesar 100 miliar euro (sekitar Rp1.661,4 triliun) yang dijanjikan oleh para pejabat pada 2020 lalu.

Generasi muda telah berulang kali meminta mereka yang berkuasa untuk memenuhi target iklim, mengutip laporan yang menganggap masa depan mereka tidak pasti di tengah planet yang terus memanas.

Sebuah suveri awal September 2021 lalu melaporkan, semakin banyak orang melihat perubahan iklim sebagai ancaman yang membayangi, dengan kaum muda terutama khawatir tentang hal itu yang dianggap merugikan mereka.

3. Paus Fransiskus berterima kasih kepada para aktivis atas impian dan proyek bagus mereka
Di Forum Internasional, Greta Thunberg Hujat Para Pemimpin Dunia

Tidak ketinggalan pujian juga disampaikan oleh Paus Fransiskus. Dia mengapresiasi aktivis iklim muda karena menantang para pemimpin global untuk menepati janji, untuk mengekang emisi, serta menekan para pemimpin dunia untuk membuat keputusan yang bijaksana.

Paus juga berterima kasih kepada para aktivis atas impian dan proyek bagus mereka, serta mendorong mereka untuk membentuk aliansi pendidikan untuk membantu membangun kembali tatanan kemanusiaan, melalui kepedulian terhadap planet ini.

Menurutnya, visi ini mampu menantang dunia orang dewasa, karena mengungkapkan
bahwa harus siap tidak hanya untuk bertindak, tetapi juga untuk mendengarkan dengan sabar, dialog konstruktif, dan saling pengertian.

Pemimpin Katolik dunia itu telah menjadikan Bumi sebagai ciri kepausannya dan mencurahkan seluruh ensiklik untuk masalah ini pada 2015 lalu.

Konferensi para Uskup di Skotlandia mengatakan, pihaknya mengharapkan Paus Fransiskus untuk menghadiri KTT Iklim di Glasgow, meskipun pihak Vatikan belum mengkonfirmasi kehadirannya.

Menurut Thunberg, jika tidak ada yang memberikan tekanan pada pihak-pihak pemangku kekuasaan, dikhawatirkan mereka tidak akan melakukan apapun. Thunberg juga mengkritisi media karena dianggap mempermainkan krisis perubahan iklim yang serius ini.

Thunberg menarik perhatian publik secara luas ketika pada 2018 melakukan aksi protes sendirian di luar gedung parlemen Swedia di Ibu Kota Stockholm. Saat itu, dia memprotes kurangnya langkah nyata untuk menghentikan perubahan iklim. Apa yang dilakukan Thunberg lalu menjadi gerakan global.

Pemerintah Swedia mengklaim sudah memainkan peran dalam memerangi perubahan iklim. Namun Thunberg dan teman-teman aktivis lingkungan hidup menyatakan pemerintah Swedia dinilai belum melakukan cukup tindakan.