Meksiko Meminta PM Israel Untuk Mengekstradisi Tomás Zerón

Meksiko Meminta PM Israel Untuk Mengekstradisi Tomás Zerón

Meksiko Meminta PM Israel Untuk Mengekstradisi Tomás Zerón – Tomás Zerón de Lucio adalah mantan pejabat publik Meksiko. Dia adalah petugas keamanan publik dalam administrasi Felipe Calderón Hinojosa dan Enrique Peña Nieto . Sejak 2019 dia dicari oleh hakim Meksiko karena berbagai tuduhan; dari pengalihan sumber daya, penyiksaan, penyembunyian bukti dan kejahatan terhadap administrasi publik; Namun, ia melarikan diri ke Israel untuk menghindari tindakan keadilan.

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador telah meminta PM Israel Naftali Bennett untuk mengekstradisi Tomás Zerón de Lucio. Pasalnya, Zeron merupakan seorang mantan pejabat yang diduga terlibat dalam kasus hilangnya puluhan mahasiswa di Aytozinapa.

Sebelumnya Meksiko juga sudah mengajukan gugatan pada seorang mantan Menteri Keamanan Genaro Carcia Luna terkait dengan kasus korupsi. Namun, pihak Meksiko sebenarnya menginginkan memulangkan Garcia Luna dari AS untuk diadili di negaranya.

1. AMLO minta Israel mau berkolaborasi dengan Meksiko
Meksiko Ajukan Permintaan Ekstradisi Tomas Zeron dari Israel

Deputi Menteri Luar Negeri Alejandro Encinas menyebut bahwa AMLO telah mengirimkan surat kepada Bennett terkait masalah ekstradisi Tomas Zeron. Hal ini karena mantan kepala Badan Investigasi Kriminal itu dituding memanipulasi investigasi kasus penculikan dan hilangnya 43 mahasiswa di tahun 2014.

“Presiden telah mengirimkan surat permintaan kepada Israel untuk membantu dan berkooperasi dalam proses ekstradisi Zeron” kata Encinas. Namun, ia mengungkapkan jika Bennett hingga kini masih belum memberikan respon terkait permintaan AMLO.

Pada Juli lalu, presiden berusia 67 tahun itu juga sudah mendesak Israel agar bersedia untuk berkooperasi dalam masalah pemulangan Zeron.

“Saya harap Pemerintah Israel berhasil melakukan aksi untuk mendukung hak asasi manusia, lantaran proses ekstradisi mantan pejabat itu sudah dikirimkan. Selain itu, permasalahan lain, terutama terkait dengan kekerasan” ujar AMLO, dilaporkan dari laman The Times of Israel.

2. Israel enggan turuti permintaan ekstradisi Zeron ke Meksiko
Meksiko Ajukan Permintaan Ekstradisi Tomas Zeron dari Israel

Dilansir dari The Times of Israel, Zeron telah melarikan diri dari Meksiko begitu kasus penyelidikan terkait penculikan massal dibuka. Pelariannya berlangsung ketika Lopez Obrador akan dilantik menjadi presiden pada tahun 2019 dan kemudian ia diketahui sudah berada di Israel.

Namun, seumlah pejabat di Israel mengungkapkan apabila Zeron dipersekusi lantaran diklaim menjadi bagian dari upaya AMLO untuk melawan pendahulunya Enrique Pena Nieto.

Selain itu, salah seorang pejabat senior Israel mengungkapkan permintaan ekstradisi dari Meksiko tidak ditanggapi oleh Israel sebagai balasan diplomasi. Pasalnya, Meksiko mengajukan upaya voting dalam melawan Israel di Forum PBB.

“Kenapa kita harus membantu Meksiko?” dan menyebut bahwa Meksiko memberikan dukungan pada Dewan HAM PBB untuk menyelidiki Israel yang selama ini melawan Hamas di Gaza dan perlakuan buruknya terhadap rakyat Palestina.

3. Aparat kepolisian diduga terlibat dalam kasus penculikan ini

Dilansir dari Reuters, sebanyak 43 orang mahasiswa calon tenaga pengajar itu diketahui hilang di Kota Iguala, Guerrero. Namun pemerintah setempat menyebut bahwa puluhan mahasiswa itu diculik oleh polisi korup yang berkolaborasi dengan organisasi kartel narkoba Guerreros Unidos

Akan tetapi, pada administrasi sebelumnya yang dipimpin Enrique Pena Nieto mengatakan apabila geng tersebut membunuh mahasiswa dan dipercaya beberapa di antaranya dijadikan sebagai pekerja paksa, dan sebagian di antaranya dibakar dan abunya dibuang ke sungai.

Namun belakangan terdapat bukti bahwa PGR dan pejabat dari penegak hukum lainnya dengan sengaja menyeting TKP, memalsukan bukti dan menghancurkan bukti serta melakukan sejumlah kesalahan dalam proses investigasinya, dikutip dari laman Mexico News Daily.

Bahkan pada Senin minggu lalu, Komisi HAM Nasional Meksiko (CNDH) mengungkapkan penolakannya terhadap hasil investigasi versi pemerintahan Peña Nieto.

Sementara itu, kasus hilangnya 43 mahasiswa dari Ayotzinapa sudah berlangsung tepat tujuh tahun lalu, pada 26 September 2014. Insiden itu merupakan salah satu kasus penculikan dan pelenyapan paling mengejutkan dan berdarah dalam sejarah Meksiko, dilansir dari laman Market Research Telecast.

Pada tahun 2020, Menteri Luar Negeri Marcelo Ebrard mengumumkan bahwa telah dikeluarkan kartu merah melalui Interpol atas penangkapan Zerón, yang saat itu berada di Kanada, atas kejahatan penyiksaan terhadap kemungkinan pelaku penghilangan paksa 43 mahasiswa Ayotzinapa dan manipulasi barang bukti. dalam kasus yang sama.

Zerón berhasil menghindari penangkapan, berlindung di Israel, negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Meksiko, dan yang menolak untuk menyerahkan Zerón, karena posisi Meksiko dalam konflik Israel dengan Palestina. Zerón meminta suaka dari Israel, karena dia menunjukkan bahwa dia adalah orang yang dianiaya secara politik.