Mantan Mendagri Spanyol Dituding Terlibat Aksi Pembunuhan

Mantan Mendagri Spanyol Dituding Terlibat Aksi Pembunuhan

Mantan Mendagri Spanyol Dituding Terlibat Aksi Pembunuhan – Francisco Paulino Hermenegildo Teódulo Franco y Bahamonde Salgado Pardo atau yang biasa disingkat sebagai Francisco Franco Bahamonde (4 Desember 1892 – 20 November 1975) adalah pempimpin de facto Spanyol dari tahun 1939 hingga tahun 1975. Ia merupakan putra kedua dari keluarga angkatan laut kelas menengah yang lahir pada tanggal 4 Desember 1892.

Franco memasuki akademi militer di Toledo di usia 14 tahun. Setelah tamat 3 tahun kemudian secara cepat ia menjadi sukarelawan dinas aktif dalam koloni Spanyol di Maroko, menarik rasa hormat dan kenaikan sebagai kapten muda dalam ketentaraan Spanyol.  Hakim di Kantor Kejaksaan Argentina telah membuka investigasi terkait insiden pada masa kepemimpinan diktator Francisco Franco di Spanyol.

Hal ini terkait dengan mantan Menteri Dalam Negeri Spanyol bernama Rodolfo Martín Villa yang diduga terlibat dalam aksi pembunuhan. Pasalnya, ia disebut menjadi salah satu bagian penting dalam struktut pemerintahan fasis di Spanyol yang dipimpin Franco. Tak ayal jika Villa dituding terlibat dalam kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

1. Dituding terlibat kasus pembunuhan empat orang

Hakim Argentina Maria Servini de Cubria membuka investigasi kasus pembunuhan yang terjadi pada masa kepemimpinan diktator Francisco Franco di Spanyol. Kasus pembunuhan ini diduga dilakukan oleh mantan Mendagri Rodolfo Martín Villa yang memimpin antara tahun 1976-1979.

“Martin Villa adalah terduga pelaku kriminal yang bertanggung jawab terkait kasus pembunuhan berantai kepada empat orang. Di antara keempat orang tersebut bernama Pedro María Martínez Ocio, Romualdo Barroso Chaparro, Francisco Aznar Clemente dan Germán Rodríguez Saíz” kata Maria Cubria, dilaporkan dari The Guardian.

Selama ini, Cubria diketahui sebagai hakim yang berfokus dalam menginvestigasi kasus kriminal selama masa kepemimpinan diktator Franco di Spanyol (1939-1975) sejak tahun 2010. Bahkan, ia juga menyelidki beberapa kasus pada masa pemerintahan transisi dari diktator menuju ke demokrasi, dilansir dari DW.

Sedangkan menurut keluarga korban menuturkan jika ini merupakan kabar baik terutama bagi keluarga korban yang selama ini menunggu agar para pelaku kekerasan mendapatkan hukuman yang setimpal.

2. Martin Villa menolak tudingan itu dan akan ajukan banding

Martin Villa (87) merupakan Menteri Perdagangan dan Mendagri pada masa transisi dari kediktatoran, tepatnya pada masa kepemimpinan Perdana Menteri Adolfo Suárez yang terpilih secara demokrasi.

Namun, mendengar keterangan dari Cubria, Villa mengaku tidak bersalah dan berkata bila tidak mungkin ia terlibat pelanggaran hak asasi manusia pada masa transisi. Meskipun ia sendiri mengakui terdapat kesalahan fatal yang dilakukan polisi dan diperlukan perbaikan yang adil. Dikutip dari The Guardian, Villa juga mengaku bila dirinya tetap tenang dan akan mengajukan banding.

Cubria yang selama ini berfokus pada kasus pelanggaran HAM, sejak awal sudah menuding Villa menjadi pelaku utama pembunuhan empat orang. Bahkan, ia dituding juga terlibat delapan kasus pembunuhan lainnya yang masih diinvestigasi.

Pada kasus yang akan diselidiki itu, disebut tiga orang dibunuh oleh aparat kepolisian saat adanya aksi unjuk rasa pekerja di Vitoria pada tahun 1976. Sedangkan empat orang lainnya dibunuh dalam penyelenggaraan Festival San Fermin di Pamplona tahun 1978, dilansir dari laman DW.

3. Adanya hukum amnesti di Spanyol sejak tahun 1977

Dilaporkan dari The Guardian, Pemerintah Spanyol sebelumnya sudah meresmikan hukum amnesti di tahun 1977 untuk mengampuni semua tindakan kriminal yang dilakukan oleh pejabat dan militer pada masa kepemimpinan Franco.

Maka dari itu, ratusan warga Spanyol tengah mencoba untuk menangani masalah ini dengan berpaling ke Pengadilan Argentina, sesuai dengan prinsip keadilan. Hal ini untuk mencari keadilan dari keluarga korban ataupun orang yang terdampak dari kekerasan di era tersebut.

Cubría selama ini dikenal sebagai hakim terkait kasus pelanggaran HAM, bahkan ia hakim pertama yang mampu mengembalikan anak-anak yang diculik pada masa kediktatoran di Argentina antara 1976-1983.

Bahkan pada akhir tahun 90an, ia membuka kasus hukum yang terkait dengan kediktatoran di Chile dan ia selanjutnya membuka kasus terkait penculikan bayi pada masa diktator Franco di Spanyol pada tahun 2013, dikutip dari El Mundo.

Peristiwa dramatis pada 1931 mengubah selamanya kehidupan Franco saat pada tahun itu, Raja Spanyol Alfonso XIII turun tahta dan dibuang ke pengasingan. Pemerintahan republik baru, didominasi kaum kiri, kaum kanan melihat militer sebagai ancaman dan membubarkan Akademi, mengirimkan jenderal muda ke daeah terpencil di Kepulauan Balearik.

3 tahun berikut politik mondar-mandir di Spanyol dilihatnya kembali dimajukan (di bawah pemerintahan konservatif yang singkat pada 1933-1934) dan kembali disuruh kembali (setelah kemenangan sayap kiri Popular Front dalam penyelidikan pada 1936.)