Kondisi Ekonomi di Afghanistan Buat Gizi Anak-Anak Memburuk

Kondisi Ekonomi di Afghanistan Buat Gizi Anak-Anak Memburuk

Kondisi Ekonomi di Afghanistan Buat Gizi Anak-Anak Memburuk – Ekonomi Afganistan telah membaik semenjak tahun 2002 akibat masuknya miliaran dolar dalam bentuk bantuan internasional dan investasi. Pertumbuhan ekonomi Afganistan juga dipengaruhi oleh pendapatan dari orang Afganistan di luar negeri.

Ekonomi juga membaik karena bertambahnya produksi pertanian setelah berakhirnya kekeringan selama empat tahun. Kondisi ekonomi yang memburuk di Afghanistan telah menimbulkan dampak menghancurkan bagi banyak orang, khususnya dalam bidang kesehatan.

Anak-anak di negara itu kini menghadapi kekurangan gizi yang parah, bahkan lebih parah dari tahun lalu sebelum negara itu diambilalih Taliban. BBC melaporkan bahwa rumah sakit di provinsi tengah Ghor yang terpencil telah didatangi ibu-ibu bersama bayi mereka, berharap dapat menerima paket download aplikasi idn play nutrisi. Seorang pekerja rumah sakit itu mengatakan, kondisi ini telah berlangsung setiap hari.

1. Banyak bantuan dihentikan
Anak-Anak Afghanistan Hadapi Kekurangan Gizi

Kondisi ini salah satunya disebabkan ditariknya bantuan atau dukungan internasional di negara itu setelah Taliban mengambilalih pemerintahan pada Agustus lalu. Padahal, dukungan internasional sangat penting bagi warga Afghanistan.

Alasan lainnya yang memperburuk keadaan, yakni karena cadangan devisa negara itu, yang berjumlah sekitar 10 miliar dolar Amerika serikat (AS) atau Rp140 triliun telah dibekukan, utamanya oleh Amerika Serikat.

Negara ini juga tengah menghadapi lonjakan pengangguran dan kenaikan harga pangan di saat nilai mata uangnya anjlok. Saat ini, bank-bank di negara itu juga telah menetapkan batas penarikan uang tunai.

2. Kehidupan sulit
Anak-Anak Afghanistan Hadapi Kekurangan Gizi

Para perempuan di luar pusat triase malnutrisi di Ghor, mengatakan, hidup selalu sulit di negara itu. Tetapi sekarang semakin sulit. “Kami tidak punya apa-apa, tidak ada makanan. Anak-anak saya sakit dan kami tidak punya obat,” kata seorang ibu. “Kenapa kita tidak mendapatkan bantuan?”

Seorang dokter senior mengatakan, jumlah kasus anak yang mengalami kekurangan gizi menjadi dua kali lebih banyak dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri telah memperingatkan bahwa satu juta anak berisiko meninggal karena kelaparan selama beberapa bulan mendatang.

Rumah sakit yang menangani pasien kekurangan gizi juga menghadapi banyak masalah. Mulai dari kekurangan ruang rawat hingga kekurangan hal-hal yang dibutuhkan untuk pasien, seperti kayu bakar untuk pemanas yang dibutuhkan agar bisa menghangatkan tubuh pasien di malam hari.

Parahnya, bukan hanya peningkatan malnutrisi yang dihadapi staf rumah sakit, tetapi juga kasus pneumonia parah saat musim dingin tiba. “Kami tidak memiliki bahan bakar, selendang atau pakaian hangat,” kata seorang perempuan tua yang menemani cucunya yang masih bayi di ruang gawat darurat. “Kami tidak memiliki kehidupan nyata.., kami adalah pengungsi yang terlantar.”

3. Kondisi Afghanistan memburuk
Anak-Anak Afghanistan Hadapi Kekurangan Gizi

Di bawah pemerintahan sebelumnya, rumah sakit juga kekurangan sumber daya, tetapi setidaknya Kementerian Kesehatan mampu menyediakan bahan bakar yang cukup untuk mereka. Sekarang, dengan adanya pemotongan dana, pemerintah Taliban tidak punya uang.

Bahkan tumpukan kayu kecil di pemanas ruangan telah disumbangkan oleh badan amal internasional. Kondisi ekonomi yang kacau ini juga berdampak pada staf rumah sakit. Mereka dikabarkan baru menerima gaji dalam lima bulan, itu pun berkat bantuan Komite Palang Merah Internasional.

Dr Parsa, kepala rumah sakit wilayah itu, sampai harus membayar gaji untuk enam perawat tambahan dari kantongnya sendiri, hanya untuk menjaga agar layanan penting tetap berjalan.

Persediaan obat-obatan saat ini juga masih sangat rendah. Mereka hanya memiliki pasokan obat untuk waktu sekitar satu minggu. Akibatnya, kebanyakan pasien disuruh membeli sendiri dari apotek terdekat, membuat mereka terlilit utang.

Pemerintah Barat telah menangguhkan pendanaan karena khawatir dananya akan disalahgunakan pemerintahan Taliban. Tapi Dr Parsa mengatakan, rumah sakitnya membutuhkan dukungan.

“Pesan saya kepada komunitas internasional adalah: ini adalah situasi terburuk yang pernah kami hadapi… tolong kirimkan bantuan kemanusiaan kepada kami. Negosiasikan dengan emirat Islam [pemerintah Taliban] dan cairkan cadangan devisa mereka,” katanya.

Pemerintah Afganistan mengklaim bahwa negaranya memiliki kandungan  mineral yang belum dieksploitasi sebesar 3 triliun dolar, yang dapat menjadikan Afganistan salah satu wilayah pertambangan terkaya di dunia. Namun, Afganistan merupakan salah satu negara termiskin di dunia akibat konflik, dan negara ini bertengger di peringkat 175 dalam Indeks Pembangunan Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Produk domestik bruto Afganistan tercatat sebesar $34 miliar, sementara  pendapatan per kapitanya tercatat sebesar $ 1.150. Sekitar 35% penduduk Afganistan merupakan pengangguran. Sementara itu, 36% penduduk Afganistan hidup di bawah garis kemiskinan.

Pemerintah Afganistan dan  donor internasional terus mencoba untuk meningkatkan penyediaan kebutuhan-kebutuhan dasar dengan memprioritaskan pembangunan  infrastruktur dan perumahan, pendidikan, penyediaan lapangan kerja dan pelayanan kesehatan, serta reformasi ekonomi.