Kepala Pengawas Nuklir PBB Berencana Untuk Mengunjungi Iran

Kepala Pengawas Nuklir PBB Berencana Untuk Mengunjungi Iran

Kepala Pengawas Nuklir PBB Berencana Untuk Mengunjungi Iran – Kepala pengawas nuklir dari badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dilaporkan akan mengunjungi Teheran, Iran pada Minggu 29 Oktober 2017. Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA, Yukiya Amano berencana akan melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat senior Iran terkait program nuklir.

Kepala pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rafael Grossi, berencana mengadakan kunjungan untuk bertemu para pejabat Iran di Teheran pada hari Selasa mendatang. Rencana itu dikonfirmasi oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada Kamis (18/11/2021), dimana lebih dari dua bulan setelah Iran berjanji untuk bertemu dengan mereka.

Behrouz Kamalvandi, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran, mengatakan kepada media pemerintah pada hari Rabu bahwa Grossi akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Hossein Amirabdollahian dan kepala energi nuklir Mohammad Eslami. Sementara IAEA dalam pernyataannya belum mengatakan siapa yang akan ditemui Grossi.

1. PBB sebut Iran tingkatkan persediaan nuklir
Kepala Pengawas Nuklir PBB Akan Kunjungi Iran Pekan Depan

Dilansir AP News, badan pengawas nuklir PBB menuding Iran telah meningkatkan persediaan uraniumnya yang sangat diperkaya dan disebut telah melanggar kesepakatan 2015 bersama dengan kekuatan dunia lainnya.

Sebagai informasi, kesepakatan 2015 atau yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) merupakan perjanjian dimana Iran setuju untuk membatasi pengembangan nuklirnya. Kesepakatan itu dibuat guna meminimalisir risiko pengembangan senjata nuklir.

IAEA mengatakan kepada negara-negara anggota dalam laporan triwulan pada hari Rabu bahwa Iran memiliki persediaan yang diperkirakan sekitar 17,7 kilogram uranium diperkaya hingga kemurnian fisil 60 persen. Jumlah itu mengalami peningkatan hampir 8 kilogram sejak bulan Agustus.

Uranium yang sangat diperkaya seperti itu dapat dengan mudah disuling untuk membuat senjata atom, itulah sebabnya kekuatan dunia berusaha menahan program nuklir Teheran.

2. Iran tuduh Israel lakukan sabotase terhadap fasilitas nuklirnya
Kepala Pengawas Nuklir PBB Akan Kunjungi Iran Pekan Depan

Menurut laporan Al Jazeera, direktur pengawas nuklir global sebelumnya mengaku terkejut karena badan itu belum bertemu dan membahas beberapa perselisihan luar biasa dengan pejabat tinggi Iran, beberapa bulan setelah pemerintahan Ebrahim Raisi dibentuk.

Masalah yang paling mendesak tampaknya adalah aktivitas di lokasi produksi suku cadang sentrifugal di Karaj, yang tidak dipantau oleh IAEA sejak bulan Juni. Iran menuduh Israel melakukan sabotase untuk merusak fasilitas itu termasuk kamera pengawas IAEA.

Pada bulan September terjadi perselisihan antara IAEA dan Iran lantaran negara itu bersikeras mengatakan pengadilan dan pihak keamanannya masih menyelidiki situs Karaj dan tidak ada yang boleh mengaksesnya.

Dalam laporan terpisah pada hari Rabu, IAEA membantah bahwa kameranya digunakan untuk memasang serangan di situs Karaj setelah Iran mengatakan sedang menyelidiki kemungkinan itu.

3. Iran meminta pencabutan sanksi
Kepala Pengawas Nuklir PBB Akan Kunjungi Iran Pekan Depan

Pada 29 November mendatang, Iran dan P4+1 (China, Prancis, Inggris, Rusia, dan Jerman) akan kembali mengadakan pertemuan di ibu kota Austria yang sebelumnya terhenti pada bulan Juni untuk memungkinkan Raisi membentuk pemerintahannya. AS yang secara sepihak meninggalkan kesepakatan nuklir pada 2018 dan menjatuhkan sanksi terhadap Iran, akan berpartisipasi secara tidak langsung.

Pembicaraan itu diperkirakan akan menjadi rumit karena pemerintahan Raisi telah mengatakan bahwa Iran ingin semua sanksi AS yang dikenakan termasuk sebutan “terorisme” atau yang terkait hak asasi manusia dicabut. Dia juga ingin AS berjanji agar tidak akan meninggalkan kesepakatan itu lagi di masa yang akan datang.

Sementara itu, AS telah menyatakan bahwa mereka hanya bersedia untuk mencabut sanksi yang tidak konsisten dengan JCPOA. Pada hari Selasa, Raisi melakukan panggilan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dimana dia mengatakan Iran serius untuk mencabut sanksi AS melalui pembicaraan Wina.

China dan Rusia diperkirakan akan memainkan peranan penting dalam pertemuan mendatang. Delegasi utama mereka di Wina mengadakan pertemuan virtual dengan Iran pada hari Senin.

Kunjungan tersebut dilakukan di tengah memanasnya perselisihan antara Washington dan Teheran. Ketegangan hubungan kedua negara meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memutuskan untuk tidak jadi mencabut diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.

Namun, orang nomor 1 di Negeri Paman Sam itu memberikan waktu 60 hari bagi Kongres untuk mengambil sikap, apakah harus mengembalikan sanksi keras terhadap Teheran atau tidak. Pengembalian sanksi itu berimplikasi pada hancurnya kesepakatan nuklir Teheran.