Kejaksaan Larang Perdana Menteri Haiti Keluar Dari Negaranya

Kejaksaan Larang Perdana Menteri Haiti Keluar Dari Negaranya

Kejaksaan Larang Perdana Menteri Haiti Keluar Dari Negaranya – Ariel Henry lahir 6 November 1949) adalah politisi dan ahli bedah saraf asal Haiti Haitian politician dan menjadi Perdana Menteri Haiti ke-23 dan menjadi pejabat  Presiden Haiti sejak 20 Juli 2021.  Henry diundang oleh kepala jaksa Haiti  Bedford Claude pada 10 September untuk wawancara mengenai pembunuhan Moïse. 

Claude menyatakan bahwa Henry telah melakukan kontak dengan tersangka utama pada hari pembunuhan itu.  Namun Henry menolak memberikan izin pada hari berikutnya, menyebutnya sebagai “taktik pengalih perhatian”.

Perdana Menteri Haiti, Ariel Henry, dilarang oleh kejaksaan setempat untuk meninggalkan negaranya pada Selasa (14/9) waktu setempat setelah diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Presiden Haiti, Jovenel Moise, bulan Juli 2021 lalu. Proses penyelidikan kasus ini telah menemui titik terang untuk saat ini.

1. Henry sebelumnya mengirim surat untuk memecat Kepala Kejaksaan Haiti

Dilansir dari BBC, seorang jaksa setempat sedang mencari dakwaan terhadap Henry, yang telah diminta untuk menjelaskan hubungannya dengan tersangka utama pembunuhan itu, Joseph Felix Badio.

Menurut kejaksaan, catatan menunjukkan kedua pria itu melakukan beberapa panggilan telepon hanya beberapa jam setelah peristiwa itu terjadi.

Henry mengirimkan surat untuk memecat Kepala Kejaksaan Haiti, Bed-Ford Claude serta menuduhnya melakukan pelanggaran administratif yang serius.

Henry kemudian mencalonkan penggantinya yang sudah disiapkan. Akan tetapi, keesokan harinya, Claude tetap berada di posisinya saat ini ketika dia meminta hakim menyelidiki pembunuhan Moise untuk mendakwa Perdana Menteri Haiti atas keterlibatannya yang dicurigai dalam kasus tersebut.

Sebuah sumber setempat mengatakan bukan wewenang Perdana Menteri untuk memberhentikan jaksa.

Menteri Kehakiman Haiti telah memerintahkan perlindungan polisi ekstra untuk Claude menyusul adanya sejumlah ancaman yang dilaporkan.

2. Tuduhan terhadap Henry merupakan putaran baru dalam penyelidikan

 

Tuduhan yang dilancarkan terhadap Henry merupakan putaran baru dalam penyelidikan kompleks pembunuhan itu dan mereka diharapkan untuk memicu seruan baru untuk pemerintahan sementara yang independen pada saat kekerasan geng kembali meningkat.

Menurut seorang aktivis anti-korupsi setempat, James Beltis, mengatakan Henry telah berada di posisinya sebagai Perdana Menteri Haiti selama lebih dari sebulan serta tidak ada visi atau kepempinan nyata atau juga tindakan nyata yang diambil untuk mengubah situasi negara yang mengerikan ini.

Ia menambahkan namanya terlibat dalam skandal pembunuhan tersebut dan itu alasan lain baginya untuk meninggalkan kekuasaan.

Hakim investigasi, Garry Orelien, pada Senin lalu memanggil istri dari Moise sekaligus mantan Ibu Negara Haiti, Martine Moise, untuk diinterogasi.

Permintaan Claude agar Henry didakwa datang 3 hari setelah Perdana Menteri mencapai kesepakatan pembagian kekuasaan dengan beberapa oposisi politik.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Henry akan membentuk pemerintah persatuan baru dalam beberapa hari ke depan untuk memimpin negara sampai Pemilu yang akan diadakan paling lambat akhir tahun 2022 ini.

Dia adalah satu-satunya di kabinet saat ini yang dijamin pekerjaan di pemerintah persatuan.

Beberapa waktu sebelum peristiwa itu terjadi, Henry menjadi pilihan Moise untuk menjabat sebagai Perdana Menteri Haiti berikutnya.

3. Pada Juli 2021 lalu, seorang menteri senior Haiti ungkap ‘ikan-ikan besar’ merupakan dalang di balik peristiwa ini

Seorang menteri senior pada akhir Juli 2021 lalu mengungkapkan adanya “ikan-ikan besar” yang mendalangi pembunuhan Presiden Haiti masih buron.

Kepolisian Haiti sebelumnya menetapkan 2 warga negara Haiti sebagai tersangka utama, yakni Christian Emmanuel Sanon (seorang pendeta di Florida, AS), dan Joseph Felix Badio (mantan perwira intelijen).

Kepala Kepolisian Kolombia, Jenderal Jorge Luis Vargas, mengklaim Badio kemungkinan telah memberikan perintah untuk dua pensiunan tentara Kolombia untuk membunuh Moise pada (7/7) lalu untuk alasan yang masih belum jelas.

Menteri Pemilu Haiti, Mathias Pierre, mengatakan dia meragukan Sanon dan Badio adalah arsitek utama dibalik peristiwa ini, yang dikhawatirkan dapat menjerumuskan negara Haiti ke babak baru volatilitas.

Namun, Pierre mengatakan dia yakin Sanon bukanlah dalang pembunuhan itu melainkan telah dimanfaatkan oleh orang-orang tertenu dengan alasan dendam terhadap Moise.

Sifat yang tepat dari dendam itu tidak jelas tetapi Pierre mengklaim ada tokoh Haiti yang berpengaruh merasa bahwa kepentingan pribadi mereka dalam bahaya dan mereka ingin melakukan segalanya untuk menyingkirkan Presiden.

Meski demikian, Pierre menambahkan tidak akan pernah berpikir pembunuhan itu merupakan bagian dari rencana permainan mereka.

Sebelumnya, Pierre mengungkapkan Moise telah berulang kali berbicara mengenai ancaman pembunuhannya, tetapi tidak ada ancaman langsung pada saat itu.

Renan Hédouville , kepala Kantor Perlindungan Warga , menuntut pengunduran diri Henry pada 13 September, dan juga memintanya untuk bekerja sama dalam penyelidikan. Claude pada 14 September meminta hakim yang menyelidiki pembunuhan itu untuk menuntut Henry dan mengatakan kepada otoritas imigrasi untuk melarangnya meninggalkan negara itu. 

Renald Lubérice , yang sekretaris jenderal dari Dewan Menteri , mengundurkan diri pada 15 September karena tuduhan terhadap Henry dan dituduh berusaha untuk menghalangi keadilan. Henry sementara itu memecat Menteri Kehakiman Rockfeller Vincent , yang telah memerintahkan peningkatan keamanan untuk Bedford Claude dengan alasan ancaman kepadanya.