Jepang Akan Melindungi Taiwan dari Ancaman Tiongkok

Jepang Akan Melindungi Taiwan dari Ancaman Tiongkok

Jepang Akan Melindungi Taiwan dari Ancaman Tiongkok – Taro Aso Tarō, lahir di Iizuka, Prefektur Fukuoka, Jepang, 20 September 1940; umur 80 tahun) adalah politikus sekaligus pengusaha Jepang dan mantan Perdana Menteri Jepang. Wakil Perdana Menteri Taro Aso mengatakan, Jepang siap pasang badan demi melindungi Taiwan dari invasi Tiongkok.

Ia juga menjabat Ketua Partai Demokrat Liberal (LDP), dan telah menjadi anggota Majelis Rendah Jepang sejak tahun 1979 (9 kali masa jabatan). Kendati demikian, Tokyo berharap kebijakan luar negeri Beijing terhadap Taipei lebih mengedepankan solusi damai. Pernyataan politikus nomor dua di Jepang itu disampaikan pada Selasa (6/7/2021), sehari setelah dia berpidato tentang posisi Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang akan terus membela Taiwan.

“Jika Taiwan jatuh, Dilansir dari idn poker apk versi terbaru Okinawa akan menjadi yang berikutnya. Kita harus memikirkan ini dengan serius, dan dengan teguh mempersiapkan kemampuan pertahanan kita,” kata Aso, seraya menyebut Tiongkok sebagai ancaman eksitensial langsung.

1. Tiongkok wanti-wanti Jepang dengan pernyataan seputar Taiwan
Jepang Siap Pasang Badan Demi Lindungi Taiwan dari Invasi Tiongkok

Ungkapan tegas Aso disampaikan dengan bahasa persuasif, yaitu “hak membela diri kolektif akan selalu ada dalam skenario perencanaan Jepang.”

Tiongkok segera beraksi menanggapi penuturan Aso. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, mengatakan bahwa apa yang disampaikan Aso telah merusak landasan politik hubungan Tiongkok-Jepang.

“Tidak ada yang boleh meremehkan tekad teguh, kemauan keras, dan kemampuan tangguh rakyat Tiongkok untuk mempertahankan kedaulatan nasional,” katanya.

Kantor Urusan Taiwan (TAO) Tiongkok turut mengecam, apa yang disebutnya sebagai pernyataan palsu berulang-ulang oleh politisi Jepang yang melanggar komitmen politik Tokyo ke Beijing.

“Kami mendesak pihak Jepang untuk merenungkan sejarah secara mendalam, segera memperbaiki kesalahannya, mengambil tindakan praktis untuk mematuhi prinsip One China Policy. Berhati-hati dalam kata-kata dan perbuatan tentang masalah Taiwan, dan hentikan semua kesalahan terkait Taiwan,” ujar juru bicara TAO Zhu Fenglian.

2. Melindungi Taiwan adalah bagian dari melindungi keselamatan nasional
Jepang Siap Pasang Badan Demi Lindungi Taiwan dari Invasi Tiongkok

Aso tercatat sebagai politikus Jepang tingkat tinggi yang telah membuat komitmen eksplisit untuk pertahanan Taiwan.

Pernyataannya muncul setelah Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengatakan bahwa reunifikasi Taiwan adalah komitmen tak tergoyahkan. Pernyataan itu disampaikan ketika Xi merayakan ulang tahun Partai Komunis Tiongkok (PKC).

Landasan hukum yang digunakan Aso untuk melindungi Taiwan adalah hak “pembelaan diri kolektif” di bawah interpretasi ulang konstitusi penolakan perang pada 2005. Aturan tersebut memungkinkan pasukan Jepang untuk membantu pasukan negara sahabat jika serangan yang dialamatkan kepadanya mengganggu keselamatan dan kepentingan nasional.

Secara geografis, Taiwan hanya berjarak 110 kilometer lepas pantai dari titik paling barat Jepang di Yonaguni.

3. Jepang tampak serius untuk melindungi Taiwan
Jepang Siap Pasang Badan Demi Lindungi Taiwan dari Invasi Tiongkok

Menteri Pertahanan, Nobuo Kishi, tampaknya mengamini pernyataan Aso. Perhatian Jepang terhadap isu Taiwan dan Tiongkok terlihat melalui tiga hal.

Pertama, Kementerian Pertahanan Jepang kemungkinan akan mengadopsi bahasa tentang keamanan Taiwan untuk pertama kalinya dalam buku putih pertahanan tahunan.

Kedua, Kishi juga telah bersumpah untuk meningkatkan pagu anggaran untuk urusan pertahanan, skeitar satu persen dari nilai produk domestik bruto, sebagai pengakuan atas ancaman yang dilancarkan oleh Tiongkok.

Terakhir, Jepang memperkuat seluruh perangkat militer di pangkalan Okinawa. Selain itu, berdasarkan laporan The Financial Times, Jepang bersama AS diam-diam terlibat dalam latihan perang bersama untuk mempersiapkan kontingensi Taiwan.

Dukungan terhadap Taiwan menjadi isu sensitif dalam diplomasi karena Jepang sejak 1972 mengakui kebijakan One China Policy setelah menjalin hubungan resmi dengan Beijing.