Israel Ingin Terus Menyerang Gaza dengan Kemampuan Penuh

Israel Ingin Terus Menyerang Gaza dengan Segala Kemampuan

Israel Ingin Terus Menyerang Gaza dengan Segala Kemampuan – Benjamin “Bibi” Netanyahu adalah Perdana Menteri Israel. Ia menjabat juga sebagai Ketua Partai Likud, sebagai anggota Knesset, sebagai Menteri Kesehatan Israel, sebagai Menteri Urusan Pensiunan Israel, dan sebagai Strategi Ekonomi Menteri Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan, serangan dan pengeboman mematikan di Jalur Gaza, Palestina, akan terus berlanjut, meski ada protes dari komunitas internasional dan upaya untuk menengahi gencatan senjata.

Orasi (bahasa Inggris Pertengahan: oracion) adalah sebuah pidato formal, atau komunikasi oral formal yang disampaikan kepada khalayak ramai. Melalui pidato yang disiarkan pada Minggu (16/5/2021), Netanyahu mengatakan, serangan udara Israel terus berlanjut dengan kekuatan penuh dan selama yang diperlukan. Dia berjanji akan membuat Hamas “membayar” segala kerusakan yang mereka sebabkan.

Kekerasan yang dilansir dari Live Chat Live22 terjadi sejak 10 Mei menjadi ketegangan terburuk sejak perang 2014 yang meluluhlantakkan Gaza.

1. Netanyahu sebut serangan di Gaza untuk mengalahkan teroris
Petugas pemadam kebakaran Israel memadamkan mobil yang terbakar setelah sebuah roket diluncurkan dari Jalur Gaza, di Ashkelon, Israel selatan, Selasa, 11 Mei 2021. (ANTARA FOTO/REUTERS/Nir Elias)

Lelaki kelahiran Tel Aviv tahun 1949 itu dengan senang menyebutkan, penyerangan yang dilakukan Israel Defense Forces (IDF) di Gaza adalah bentuk serangan terhadap organisasi teroris, menunjuk kepada Hamas.

“Operasi ini akan terus berlanjut sampai kami mencapai tujuan kami dan membawa perdamaian serta keamanan bagi semua warga Israel,” kata Netanyahu, sebagaimana dikutip dari Middle East Eye.

Di sisi lain, Israel belum membocorkan bukti apapun bahwa gedung-gedung yang mereka hancurkan merupakan basis operasi Hamas.

2. Netanyahu sebut gedung media sebagai kantor intelijen Hamas
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Sumber: twitter.com/netanyahu

Netanyahu menolak susunan kritik terhadap serangan gedung bertingkat tinggi yang menjadi markas kantor media asing, termasuk Al Jazeera, di Gaza.

Berbicara kepada CBS pada sesi Face the Nation, Netanyahu mengklaim bahwa gedung tersebut digunakan sebagai basis operasi Hamas, untuk merencanakan dan mengatur serangan teror terhadap warga sipil Israel.

“Kami menetapkan organisasi teroris yang menargetkan warga sipil kami dan bersembunyi di belakang mereka, menggunakan mereka sebagai perisai manusia,” tambahnya.

“Kami menyebarkan (informasi dan bukti) kepada orang-orang intelijen kami,” jawab Netanyahu ketika ditanya apakah dia memiliki bukti soal klaim penyerangan berbagai gedung.

3. Kritik Palestina atas negara-negara yang menormalisasi hubungan dengan Israel
Seorang pria Palestina berdoa ketika polisi Israel berkumpul selama bentrokan di kompleks yang menampung Masjid Al-Aqsa, yang dikenal oleh muslim sebagai Suaka Mulia dan kepada orang Yahudi sebagai Temple Mount, di tengah ketegangan atas kemungkinan penggusuran beberapa keluarga Palestina dari rumah-rumah di wilayah yang diklaim oleh pemukim Yahudi di lingkungan Sheikh Jarrah, di Kota Tua Yerusalem, Jumat (7/5/2021) (ANTARA FOTO/REUTERS/Ammar Awad)

Serangan yang telah berlangsung selama tujuh hari telah menewaskan sedikitnya 192 warga Gaza, termasuk 58 anak-anak, dan 1.200 orang lainnya luka-luka.

Menyikapi situasi terkini, Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki mengkritik negara-negara yang bergerak untuk menormalisasi hubungan luar negeri dengan Israel sejak tahun lalu.

“Normalisasi menuju sistem kolonial Israel tanpa mencapai perdamaian dan mengakhiri pendudukan Israel atas tanah Arab dan Palestina merupakan dukungan untuk rezim apartheid dan partisipasi dalam kejahatannya,” kata Maliki pada pertemuan darurat para menteri luar negeri Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada Minggu, dikutip dari Al Jazeera.

“Pendudukan kolonial ini harus dihadapi, dibongkar, diakhiri, dan dilarang. Normalisasi yang dipercepat baru-baru ini tidak akan berdampak pada sentimen dunia Arab atau mengubah penilaian mereka,” tambah dia.