Inilah Penyebab Munculnya Fenomena Bayi Silver Menurut KPAI

Inilah Penyebab Munculnya Fenomena Bayi Silver Menurut KPAI

Inilah Penyebab Munculnya Fenomena Bayi Silver Menurut KPAI – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut fenomena bayi silver yang dibawa mengemis di Tangerang Selatan (Tangsel) hanya realita kecil dari sekian banyak kasus eksploitasi anak di jalanan. Perlu perhatian khusus agar kejadian serupa tidak terulang.

Kepala Divisi Pengawasan Monitoring dan Evaluasi KPAI Jasra Putra mengatakan, selama pandemi Covid-19 banyak pengaduan terkait kondisi anak di keluarga, mulai dari anak ditelantarkan hingga dilacurkan. Beban ekonomi keluarga menjadi pemicu memperkerjakan anak.

“Hal ini terbukti dari pernyataan sang ibunda bayi yang merasa telah menitipkan anaknya ke tetangga, dan tidak tahu bila dieksploitasi di jalanan menjadi bayi silver, apakah benar seperti itu? Tentu perlu digali lebih dalam,” kata dia, melanjutkan.

1. Perlunya solusi sistemik
Ini Penyebab Munculnya Fenomena Bayi Silver Menurut KPAI

Menurut Jasra, peristiwa bayi silver bukan peristiwa tunggal, atau peristiwa yang berdiri sendiri, sehingga memerlukan penelusuran pada keluarga, agar dapat memberi solusi permanen.

“Karena kalau hanya sifatnya bantuan, tanpa memberi solusi sistemik untuk pegangan hidupnya ke depan, maka kita tinggal menunggu saja anak-anak ini dibawa ke jalanan lagi,” kata dia.

Menurut Jasra kondisi tersebut berdasarkan survei KPAI, lembaga pemerintah yang menampung mereka belum tuntas merehabilitasi mereka, sehingga mereka kembali ke jalanan.

“Untuk itu perlu keberpihakan lebih, agar norma, kebijakan, anggaran, SOP mampu menjawab amanah para petugas lapangan. Sehingga di mana pun berada ada bayi silver, ada rujukan yang standarnya sama dan cepat dalam penanganan,” kata dia.

2. Manusia silver semakin masif

Tujuh Manusia Silver Diamankan dari Jalanan

Jasra mengatakan sebenarnya kisah bayi silver, anak silver, remaja silver, sudah sering ditemukan. Awalnya manusia silver digunakan untuk menggalang kepedulian dengan beratraksi budaya, namun belakangan menjadi tren meminta-minta di jalanan. Padahal ada larangan mengemis di jalan, bahkan yang memberikan sesuatu kepada mereka bisa mendapat hukuman.

“Namun kisah serupa bayi silver dengan modus mengemis, juga kita saksikan di jalanan. Semenjak pemerintah melarang mereka di jalan, dan bahkan yang memberi di jalan kena risiko sanksi, mereka tidak kehabisan akal, dengan mengubah pola, agar seolah-olah bukan mengemis. Ada lebih memilih keluar malam hari, karena minim petugas yang mengawasi” kata dia.

3. Berbagai modus mengemis bermunculan
Ini Penyebab Munculnya Fenomena Bayi Silver Menurut KPAI

Jasra mencontohkan anak-anak yang seolah-olah menjual tisu atau buku, tapi setelah mendekat ke pembelinya mereka bilang butuh makan atau meminta sedikit uang. Ada juga anak yang menepi di pinggir jalan dengan gerobak atau biasa kita sebut manusia gerobak, mereka hanya memarkirkan gerobaknya dan membawa sejumlah anggota keluarga, yang menimbulkan empati bagi yang melewati mereka.

Belum lama, kata Jasra, ada yang berkostum karakter tertentu, seperti kelelahan, duduk di pinggir jalan yang mengundang belas kasihan, dan hal itu dilakukan berulang kali.

“Ada lagi para pengemis yang sengaja melewati jalan, yang sering dilewati publik figur, artis, atau orang tertentu, agar dilihat. Sebenarnya banyak cara modus dalam mengundang kepedulian, dengan modus mengemis di jalan,” katanya.

“Mungkin saja, ada yang benar-benar membutuhkan belas kasih, namun bagi kita yang memberinya, sebenarnya tidak hanya cukup dengan kasihan, belas kasih dan memberi. Karena dengan memberi, berarti membiarkan mereka untuk tetap hidup di jalan,” sambung Jasra.

4. Data kemiskinan tidak valid
Ini Penyebab Munculnya Fenomena Bayi Silver Menurut KPAI

Dalam waktu dekat, kata Jasra, KPAI akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait bersama dinas provinsi, untuk mendorong implementasi kebijakan yang ada, dengan harapan bayi atau anak-anak tidak kembali ke jalanan untuk mengemis.