Inilah Alasan Arab Saudi Baru Memberikan Info Ibadah Haji

Inilah Alasan Arab Saudi Baru Memberikan Info Ibadah Haji

Inilah Alasan Arab Saudi Baru Memberikan Info Ibadah Haji – Haji adalah ziarah Islam tahunan ke Mekkah, kota suci umat Islam, dan kewajiban wajib bagi umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup mereka oleh semua orang Muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan, dan dapat mendukung keluarga mereka selama ketidakhadiran mereka.

Ini adalah satu dari lima Rukun Islam, di samping Syahadat, Salat, Zakat, dan Sawm. Haji adalah pertemuan tahunan terbesar orang-orang di dunia. Keadaan yang secara fisik dan finansial mampu melakukan ibadah haji disebut istita’ah, dan seorang Muslim yang memenuhi syarat ini disebut mustati. Haji adalah demonstrasi solidaritas orang-orang Muslim, dan ketundukan mereka kepada Tuhan (Allah).

Kata Haji berarti “berniat melakukan perjalanan”, yang berkonotasi baik tindakan luar dari perjalanan dan tindakan ke dalam niat. Konsul Haji KJRI di Jeddah, Arab Saudi, Endang Jumali mengatakan, hingga saat ini pihaknya baru memperoleh informasi mengapa Kerajaan Arab Saudi belum mengumumkan informasi Download IDNPlay apapun terkait ibadah haji. Endang mengaku memperoleh informasi itu dari Pelaksana Tugas Menteri Media/Penerangan Saudi, Majid bin Abdullah Al-Qashabi.

1. Warga kecewa kembali batal ke Saudi meski sudah lunasi ongkos naik haji
Ini Alasan Arab Saudi Belum Umumkan soal Penyelenggaraan Ibadah Haji

Setelah melakukan rapat dengan Komisi VIII DPR, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memutuskan membatalkan pengiriman calon jemaah haji 2021 ke Saudi. Faktor kesehatan menjadi pertimbangan utama pemerintah membatalkan pengiriman calon haji pada 2021. Ini menjadi kali kedua pemerintah membatalkan pengiriman calon haji.

Salah satu warga yang terkena dampaknya adalah Ana Hazar warga Kecamatan Playen. Padahal, ia dan suami sudah sangat ingin pergi ke Tanah Suci.

Ia berhak kecewa karena pada 2019 lalu, keberangkatannya juga tertunda. Ketika itu mereka batal berangkat karena adanya pengurangan kuota haji dari Saudi.

“Ya jelas kecewa karena tertunda sebanyak dua kali, namun saya sudah mempunyai firasat ibadah haji akan terdampak karena ibadah umrah juga dibatalkan,” ungkap Ana.

Ia dan suami pun sudah melunasi pembayaran untuk ibadah haji sebesar Rp50 juta sejak 2019 lalu. “Semua biaya sudah saya lunasi dan tinggal berangkat saja namun karena pandemik COVID-19 ini semuanya buyar,” kata dia.

2. Kemenag bantah terburu-buru ambil keputusan membatalkan pengiriman jemaah haji ke Saudi
Ini Alasan Arab Saudi Belum Umumkan soal Penyelenggaraan Ibadah Haji

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Khoirizi, membantah pihaknya mengambil keputusan itu secara terburu-buru. Keputusan tersebut sudah dilakukan melalui kajian mendalam.

“Keputusan itu sudah dikaji, baik dari aspek kesehatan, pelaksanaan ibadah, hingga waktu persiapan,” kata Khoirizi dalam keterangan tertulis pada 4 Juni 2021 lalu.

Sebelum disampaikan ke publik, Menag Yaqut juga sudah berkonsultasi lebih dulu dengan Komisi VIII melalui rapat panitia kerja. Kemenag, katanya lagi, tentu berharap tetap ada penyelenggaraan ibadah haji.

“Bahkan, persiapannya sudah dilakukan sejak Desember 2020. Kami sekaligus merumuskan mitigasinya. Beragam skenario sudah disusun, mulai dari kuota normal hingga pembatasan kuota 50 persen, 30 persen, 25 persen sampai 5 persen,” tutur dia.

Persiapan layanan di dalam negeri, misalnya, terkait kontrak penerbangan, pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (Bipih), penyiapan dokumen perjalanan, penyiapan petugas, hingga pelaksanaan bimbingan manasik juga sudah dilakukan. Begitu juga penyiapan layanan di Saudi baik akomodasi, konsumsi hingga transportasi.

“Tetapi, semuanya baru bisa diselesaikan apabila besaran kuota haji sudah diterima dari Saudi,” kata Khoirizi lagi.

3. Calon jemaah haji yang sudah melunasi pembayaran, bisa ambil kembali dananya
Ini Alasan Arab Saudi Belum Umumkan soal Penyelenggaraan Ibadah Haji

Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Ramadan Harisman mengatakan, calon jemaah haji yang sudah melunasi pembayarannya bisa mengambil kembali dananya.

“Meski diambil setoran pelunasannya, jemaah tidak kehilangan statusnya sebagai calon jemaah haji yang akan berangkat pada tahun 1443 H/2022 M,” kata Ramadan melalui keterangan tertulis pada 4 Juni 2021 lalu.

Menurut Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 H/2021 M, ada tujuh tahapan pengembalian dana haji. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Jemaah mengajukan permohonan pengembalian setoran pelunasan Bipih secara tertulis
  2.  Permohonan jemaah tersebut selanjutnya akan diverifikasi dan divalidasi oleh Kepala Seksi yang membidangi urusan Penyelenggaraan Haji dan Umrah pada Kankemenag Kab/Kota
  3. Kepala Kankemenag Kab/Kota mengajukan permohonan pembatalan setoran pelunasan Bipih secara tertulis dan dikirimkan secara elektronik kepada Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri dengan tembusan kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi
  4. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri menerima surat pengajuan permohonan pembatalan setoran pelunasan Bipih dan melakukan konfirmasi pembatalan setoran pelunasan Jemaah Haji pada aplikasi Siskohat (Aplikasi Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu)
  5. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri atas nama Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah mengajukan permohonan pengembalian setoran pelunasan Bipih secara tertulis kepada Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) c.q. Badan Pelaksana BPKH
  6. BPS Bipih setelah menerima Surat Perintah Membayar (SPM) dari BPKH, segera melakukan transfer dana pengembalian setoran lunas Bipih ke rekening Jemaah Haji dan melakukan konfirmasi transfer pengembalian setoran pelunasan pada aplikasi Siskohat
  7. Jemaah menerima pengembalian setoran pelunasan melalui nomor rekening yang telah diajukan pada tahap pertama