Duta Besar Lebanon Dipanggil Oleh Pemerintah ArabSaudi & UEA

Duta Besar Lebanon Dipanggil Oleh Pemerintah ArabSaudi & UEA

Duta Besar Lebanon Dipanggil Oleh Pemerintah ArabSaudi & UEA – Arab Saudi telah menutup pintu impor dari Lebanon dan mengusir duta besar negara yang sedang dilanda krisis itu. Kebijakan baru Arab Saudi itu dipicu oleh beredarnya rekaman seorang menteri Lebanon yang mengkritik ketelibatan militer Arab Saudi dalam perang di Yaman.

Pemerintah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) telah memanggil duta besarnya dari Lebanon. Keputusan ini dilakukan setelah Pemerintah Lebanon memberika komentar pedas terhadap Arab Saudi dan UAE yang dituding sebagai penyebab peperangan di Yaman.

Pasalnya, kedua negara Jazirah Arab itu selama ini sudah ikut andil secara langsung dalam Perang Sipil Yaman untuk melawan kelompok Houthi yang diduga mendapat dukungan dan persenjataan dari Iran.

1. Arab Saudi dan UEA tuding Kordahi dukung kelompok teroris Houthi di Yaman

Pemanggilan duta besar Arab Saudi di Lebanon langsung diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri. Pihak kerajaan itu juga mengungkapkan kekecewaannya terkait ucapan yang disebutkan oleh Pemerintah Lebanon dan justru menudingnya ikut mendukung kelompok teroris Houthi di Yaman.

Selain Arab Saudi, UEA yang juga tergabung dalam koalisi Dewan Kerja sama Negara Teluk (GCC) mengungkapkan kecamannya terhadap Lebanon dan diikuti dengan memanggil duta besarnya dari negara Timur Tengah itu.

Kedua negara menyebut bila ucapan Menteri Informasi Lebanon George Kordahi sangat tidak terhormat dan tidak berdasarkan pada kenyataan. Bahkan ucapan itu menyinggung seluruh negara-negara yang tergabung dalam koalisi GCC, dikutip dari Al Jazeera.

Di samping itu, Kuwait juga memanggil kuasa hukumnya di Lebanon. Sementara Menlu Yaman juga tengah meminta penjelasan dari Beirut terkait komentar yang diungkapkan Pemerintah Lebanon.

2. Lebanon beri kritik pada Arab Saudi dan UEA terkait Perang Yaman

Ketegangan antara tiga negara Timur Tengah itu dilatar belakangi adanya ungkapan dari Kordahi pada Selasa (26/10/2021). Bahkan ia menyebut bila peperangan di Yaman tidak diperlukan dan tidak penting, serta menyebut bila kelompok Houthi mempertahankan dirinya dari serangan Arab Saudi dan UEA.

Dilaporkan dari Al Jazeera, Kordahi yang sebelumnya merupakan seorang pembawa acara di televisi itu juga mengungkapkan bila ucapan itu diberikan pada 5 Agustus lalu, ketika ia dilantik sebagai Menteri Informasi Lebanon.

“Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya tidak menyerang siapapun. Kenapa saya harus minta maaf? Saya memperkuat posisi saya dengan cinta sebagai seorang manusia yang merasa Arab sudah menderita” ujar Kordahi.

Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati mengatakan bahwa rekaman tersebut dan menekankan bahwa itu merupakan pendapat pribadi dan tidak memiliki kaitan apapun dengan pemerintahan, dilansir dari Arab News.

3. Arab Saudi memasukkan Al-Qard Al-Hassan sebagai pembantu teroris

Pada hari yang sama Arab Saudi resmi memasukkan kelompok Al-Qard Al-Hassan yang berbasis di Lebanon sebagai kelompok yang membantu teroris. Pasalnya, kelompok itu diduga memiliki hubungan dan membantu kelompok beraliran Syiah Lebanon yakni Hezbollah.

“Terdapat keterkaitan meliputi pendanaan kepada organisasi teroris Hezbolla dan pendanaannya, termasuk untuk membantu dalam kegiatan militernya” kata otoritas Arab Saudi.

Sesuai pernyataan itu, maka semua aset yang dimiliki oleh kelompok itu di dalam Kerajaan Arab Saudi akan dibekukan. “Semua kegiatan dilarang baik secara langsung maupun tidak langsung bekerja sama untuk menguntungkannya dan berhubungan dengannya” tambahnya.

Arab Saudi selama bertahun-tahun memiliki hubungan buruk dengan Lebanon lantaran kuatnya pengaruh Hezbollah di dalam politik negara itu. Bahkan, Hezbollah diketahui juga mengirimkan pasukan ke Yaman untuk melawan koalisi negara Teluk (GCC) yang dipimpin Arab Saudi.

Peristiwa di Yaman termasuk salah satu bentuk Proxy War di Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran, yang merupakan pemimpin Islam aliran Sunni dan Syiah. Keduanya sudah menjadi rival utama selama bertahun-tahun dan sudah memutus hubungan diplomatik di tahun 2016, dilaporkan dari Reuters.

Selain itu, negara petro dollar itu menarik duta besar dan melarang warga negaranya bepergian ke Lebanon. Hubungan antara Lebanon dan Arab Saudi yang sudah tegang kini kian memburuk Akibat beredarnya pidato George Koradhi, slah satu meneteri Libanon yang baru dilantik beberapa waktu lalu.

George Kordahi membuat pernyataan kritis tentang perang yang dipimpin Saudi melawan pemberontak Houthi di Yaman. Dalam rekaman itu Kordahi mengatakan, Houthi yang bersekutu dengan Iran “membela diri mereka sendiri … melawan agresi eksternal”.

Mantan presenter TV terkenal itu juga mengatakan perang anatara koalisi negara Arab dan Houthi dukungan Iran adalah suatu yang “sia-sia” dan harus segera diakhiri. Koradhi berusaha meredakan situasi. Ia mengatakan, ucapannya itu adalah pendapat pribadi dan dibuat sebelum dia jadi meneteri. Terlepas dari itu ia mengaku tak akan mau ditekan negara mana pun dalam bersikap.