Beragam Bencana yang Menghantui Timur Tengah & Afrika Utara

Beragam Bencana yang Menghantui Timur Tengah & Afrika Utara

Beragam Bencana yang Menghantui Timur Tengah & Afrika Utara – Bencana adalah rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat baik yang disebabkan oleh faktor alam atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP26 akan segera digelar di Glasgow. Para peimpin dunia dituntut untuk mengambil tindakan konkret terhadap krisis iklim yang kian mengancam bumi. Di antara wilayah yang mengalami krisis iklim adalah Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sejumlah bencana alam telah terjadi di kawasan tersebut, seperti kebakaran hutan di Aljazair, banjir bandang di Turki, polusi beracun di Lebanon, dan kekeringan yang meluas di Irak serta Suriah. Dilansir dari Middle East Eye, berikut lima bencana yang menghantui Timur Tengah dan Afrika Utara jika krisis iklim tidak ditanggapi secara serius.

1. Kota-kota besar terancam hilang
Ini 5 Ancaman Iklim yang Hantui Timur Tengah dan Afrika Utara

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Climate Central, organisasi berita nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat (AS), kota-kota pesisir di Mesir dan Irak terancam tenggelam pada 2050 sebagai akibat dari naiknya permukaan air laut.

Data Climate Central menunjukkan bahwa Basra, kota terbesar kedua di Irak, yang terancam tenggelam dapat menyebabkan ribuan orang mengungsi dari rumah mereka. Penelitian juga menunjukkan bahwa Alexandria di Mesir bisa hilang ke laut, menambah kekhawatiran sebab sebagian kota sudah tenggelam karena naiknya permukaan air laut.

2. Suhu mencapai 50 derajat celcius
Ini 5 Ancaman Iklim yang Hantui Timur Tengah dan Afrika Utara

Empat negara di Timur Tengah sempat merasakan suhu 50 derajat celcius pada Juni 2021. Oman, Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab semuanya mencatatkan rekor kenaikan suhu secara nasional.

Panas ekstrem seperti itu telah didokumentasikan sebagai peningkatan frekuensi yang signifikan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Pada 2020, sebuah penelitian yang diterbitkan di Science Advances menyimpulkan, bagian Timur Tengah, khususnya Teluk, mungkin tidak dapat dihuni manusia jika tren saat ini terus berlanjut.

3. Jutaan orang menghadapi kekeringan
Kekeringan Mematikan, Puluhan Juta Jiwa Terancam Bencana  #DermawanAtasiKekeringan - Tribunnews.com Mobile

Kekeringan membahayakan kehidupan lebih dari 12 juta orang di Irak dan Suriah, kelompok bantuan memperingatkan pada Agustus 2021.

Dalam pernyataan bersama, 13 kelompok bantuan mengatakan, risiko bencana karena kenaikan suhu, curah hujan yang rendah, dan kekeringan mengancam akses ke air minum, air irigasi, dan listrik saat bendungan mulai mengering.

Menurut PBB, Suriah menghadapi kekeringan terburuk dalam 70 tahun terakhir. Sementara Irak menghadapi musim terkering kedua dalam 40 tahun, sebagai akibat dari rekor curah hujan yang rendah.

4. Danau mulai mengering
Ini 5 Ancaman Iklim yang Hantui Timur Tengah dan Afrika Utara

Danau di Timur Tengah telah menyusut karena penguapan permukaan dan perencanaan lingkungan yang buruk, termasuk pengalihan air dari sungai yang mengalir.

Sebagian besar Danau Urmia Iran, yang pernah menjadi danau terbesar di Timur Tengah, kini telah berkurang menjadi sedikit lebih dari sekadar dataran garam. Danau Milh Irak, yang dulunya menarik ribuan orang untuk berwisata, kini menyerupai tanah yang sepi dan kering.

5. Polusi menyebar di pusat kota
Ini 5 Ancaman Iklim yang Hantui Timur Tengah dan Afrika Utara

Kabut asap beracun yang menggantung di Iran selama berhari-hari pada November 2019 memaksa pihak berwenang untuk menutup sekolah dan universitas, dan memerintahkan orang untuk tetap berada di dalam rumah mereka.

Pada 2016, akibat lonjakan polusi yang mematikan, lebih dari 400 orang diperkirakan meninggal dalamw aktu kurang dari sebulan.  Sebagian besar polusi kota disebabkan oleh kendaraan berat, sepeda motor, kilang, dan pembangkit listrik, menurut laporan Bank Dunia yang dirilis pada 2018.

Bencana dalam bahasa inggris disebut dengan disaster, berasal dari kata Latin yaitu dis dan astro/asterDis berarti buruk atau terasa tidak nyaman, dan aster berarti bintang. Dengan demikian secara harfiah disaster berarti menjauh dari lintasan bintang atau dapat diartikan “kejadian yang disebabkan oleh konfigurasi astrologi (perbintangan) yang tidak diinginkan”. Rujukan lain mengartikannya sebagai “bencana terjadi akibat posisi bintang dan planet yang tidak diinginkan”.

Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah manusia. Manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana (free from disaster). Dalam pergumulan itu, lahirlah praktik mitigasi, seperti mitigasi banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dan lain-lain. Di Mesir, praktik mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 tahun.