AS Siap Menjadi Teladan Dunia Demi Ambisi Emisi Nol Bersih

AS Siap Menjadi Teladan Dunia Demi Ambisi Emisi Nol Bersih

AS Siap Menjadi Teladan Dunia Demi Ambisi Emisi Nol BersihBelakangan makin populer istilah net-zero emissions atau nol-bersih emisi. Meskipun sudah muncul sejak 2008, istilah net-zero emissions kian mendapat sorotan karena Konferensi Tingkat Tinggi Iklim di Paris pada 2015 mewajibkan negara industri dan maju mencapai nol-bersih emisi pada 2050.

Climate Leader’s Summit yang digagas Presiden Joe Biden pada akhir April 2021 kian membuat istilah ini populer saja. Sejumlah negara menyampaikan komitmen mereka mencapai nol-bersih emisi pada 2050. Apa itu? Dan apa maksudnya? Apa yang terjadi jika dunia benar-benar tak memproduksi emisi? Presiden Joe Biden mengatakan Amerika Serikat (AS) siap menjadi pemimpin dunia dalam perang melawan iklim.

Pernyataan itu disampaikan Biden di konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP26 di Glasgow. Sayangnya, ungkapan Biden tidak diiringi dengan rencana baru untuk mempercepat ambisi emisi nol bersih. Dia juga tidak berusaha menuntaskan perselisihan soal kewajiban negara maju mendanai program energi terbarukan di negara berkembang serta miskin.

1. AS sedang menyusun strategi jangka panjang perangi krisis iklim
Joe Biden: AS Siap Jadi Pemimpin Dunia Perangi Krisis Iklim

Lebih lanjut, Biden mengatakan, Washington sedang menyusun strategi jangka panjang untuk mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad ini. Melalui cetak biru yang dirilis AS, Gedung Putih akan meningkatkan efisiensi, mengurangi metana, dan meningkatkan upaya untuk menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer.

“Ilmunya jelas. Kami hanya memiliki jendela singkat yang tersisa di hadapan kami untuk meningkatkan ambisi kami. Ini adalah dekade yang menentukan, di mana kita memiliki kesempatan untuk membuktikan diri,” ungkap dia.

Biden mengusulkan agar pemerintahannya menghabiskan 3 miliar dolar AS (Rp42,7 triliun) per tahun, untuk membantu negara-negara rentan beradaptasi dengan kenaikan air laut, kekeringan, dan konsekuensi lain dari pemanasan global.

Kemudian, jika disetujui Kongres, Biden mengatakan, Gedung Putih akan menyediakan dana 11,4 miliar dolar AS (Rp162 triliun) setiap tahun pada 2024.

2. Biden minta maaf atas kebijakan Donald Trump soal iklim
Joe Biden: AS Siap Jadi Pemimpin Dunia Perangi Krisis Iklim

Hal yang menarik adalah, Biden meminta maaf atas pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya yang berusaha meninggalkan Perjanjian Paris 2015.

“Saya kira saya seharusnya tidak meminta maaf, tetapi saya meminta maaf atas fakta bahwa AS, pemerintahan terakhir, menarik diri dari kesepakatan Paris dan menempatkan kami sedikit di belakang,” katanya.

Ke depannya, Presiden ke-46 AS itu berjanji untuk mengadakan lebih banyak pertemuan terkait kehutanan, pertanian, dan metana.

“Ini adalah tantangan dari kehidupan kolektif kita. Tuhan, selamatkanlah bumi ini,” ucap Biden.

3. Kritik terhadap pidato Biden di COP26
Joe Biden: AS Siap Jadi Pemimpin Dunia Perangi Krisis Iklim

Sementara, Direktur Eksekutif Gerakan Matahari Terbit, Varshini Prakash, mengkritik pernyataan Joe Biden. Menurutnya, sebagai negara penghasil gas rumah kaca terbesar kedua di dunia, ungkapan Biden di forum COP26 adalah omong kosong belaka.

“Biden berada di Glasgow dengan tangan kosong, hanya dengan pidato yang telah disiapkan di atas kertas. Ini memalukan dan gagal memenuhi apa yang kita harapkan,” kata Prakash dalam keterangan tertulisnya.

Di dalam negeri, Biden belum bisa meyakinkan Demokrat untuk mendukung undang-undang pembangunan infrastruktur yang berisi berbagai ketentuan tentang iklim.

Kelompok liberal di partainya menyatakan, mereka tidak akan memilih tindakan itu sampai Senat AS mengajukan draf undang-undang terpisah yang mencakup pengeluaran 555 miliar dolar AS (Rp7.914 triliun), untuk mendorong energi bersih dan memerangi perubahan iklim.

Sebenarnya, net-zero emissions atau nol-bersih emisi tak mengacu pada pengertian berhentinya umat manusia memproduksi emisi. Secara alamiah manusia dan dunia tidak bisa tak memproduksi emisi. Manusia bernapas saja menghasilkan karbon dioksida (CO2). Jika dikalikan jumlah manusia sebanyak 7,8 miliar, emisi karbon dari napas manusia berkontribusi 5,8% terhadap volume emisi karbon tahunan.

Karena itu, nol-bersih emisi adalah karbon negatif. Artinya, emisi yang diproduksi manusia bisa diserap sepenuhnya sehingga tak ada yang menguap hingga ke atmosfer. Apa yang bisa menyerap emisi karbon? Secara alamiah, emisi terserap oleh pohon, laut, dan tanah.

Melalui reaksi kimia yang kompleks, pohon, perairan, dan tanah memproses emisi karbon itu dalam siklus fotosintesis. CO2 yang bercampur dengan zat dan gas lain akan membentuk reaksi kimia yang melepaskan karbon dan oksigen. Oksigen tentu dibutuhkan mahluk hidup, karbon diperlukan untuk tanaman tumbuh hingga menjadi bahan dasar logam.