Afganistan Akan Runtuh Tanpa Kehadiran Pasukan Internasional

Afganistan Akan Runtuh Tanpa Kehadiran Pasukan Internasional

Afganistan Akan Runtuh Tanpa Kehadiran Pasukan Internasional – Sekelompok wanita Afghanistan turun ke jalan membawa senjata sebagai bentuk protes kepada Taliban. Kabar ini muncul setelah kelompok pemberontak itu terus melancarkan serangan di tengah proses penarikan pasukan AS. Presiden Joe Biden di Gedung Putih menyatakan, pemulangan militer AS akan diselesaikan paling lambat pada 31 Agustus. Di tengah upaya penarikan itu, pasukan pemerintah Afghanistan disebut sudah memundurkan sumberdayanya dari tujuh distrik.

Pemerintah dilaporkan memutuskan memfokuskan segala personel dan kemampuan tempurnya mempertahankan ibu kota Provinsi Ghor, Badakhshan. Sebagai respons, ratusan wanita di Badakhshan turun ke jalan membawa senjata dan memprotes Taliban, diwartakan The Guardian.Kepala Staf Pertahanan Inggris, Nick Carter, memperingatkan ancaman perang sipil di Afganistan usai pasukan asing yang dipimpin Amerika Serikat (AS) hengkang dari negara tersebut.

Carter mengatakan sangat mungkin Afganistan akan runtuh tanpa kehadiran pasukan internasional. Keterangan itu semakin relevan ketika Taliban dalam beberapa pekan terakhir berhasil menguasai idn poker88 asia sejumlah daerah. “Afganistan dapat melihat situasi seperti 1990, di mana Anda akan melihat peperangan dan Anda akan melihat beberapa institusi penting, seperti pasukan keamanan, mengalami kerentanan,” ujar Carter.

1. Taliban dikabarkan berhasil menguasai daerah yang berbatasan dengan lima negara
Pasukan Asing Hengkang, Inggris Sebut Afganistan di Ujung Perang Sipil

Sementara itu, dilansir The Straits Times, Taliban pada Kamis (8/7/2021) berhasil menguasai distrik utama di Afganistan barat yang berbatasan dengan Iran.

Pekan lalu, Taliban juga berhasil menaklukkan wilayah yang berbatasan dengan beberapa negara, termasuk Iran, Tajikistan, Turkmenistan, Tiongkok, dan Pakistan. Pertempuran sengit antara Taliban dengan pasukan Afghanistan juga berlangsung di provinsi Balkh utara yang berbatasan dengan Uzbekistan.

Pejabat keamanan senior Afganistan yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, perbatasan Islam Qala dengan Iran, yang terletak di Provinsi Herat telah jatuh ke tangan Taliban. Sejumlah tentara pemerintah dikabarkan terpaksa menyeberangi perbatasan Iran untuk menyelamatkan diri dari Taliban.

2. Pemerintah bantah laporan perebutan wilayah perbatasan
Pasukan Asing Hengkang, Inggris Sebut Afganistan di Ujung Perang Sipil

Informasi lain, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan Tariq Arian membantah semua laporan yang mengatakan Taliban berhasil merebut daerah-daerah penting. Dia berkukuh mengatakan wilayah perbatasan masih di bawah kendali pemerintah.

Sementara, pejabat keamanan lainnya mengatakan bila Taliban hanya merebut lima distrik di Provinsi Herat tanpa perlawanan.

Awal pekan ini, lebih dari 1.000 pasukan keamanan melarikan diri ke Tajikistan saat Taliban menguasai sebagian besar provinsi utara Badakhshan, yang juga berbatasan dengan Tiongkok dan Pakistan.

3. AS tegaskan Afganistan berhak menentukan nasibnya sendiri
Pasukan Asing Hengkang, Inggris Sebut Afganistan di Ujung Perang Sipil

Presiden AS Joe Biden bersikeras keputusan menarik pasukannya dari Afghanistan merupakan kalkulasi politik yang tepat. Menurutnya, sudah sepatutnya Afghanistan menentukan masa depannya sendiri, tanpa harus melibatkan pasukan AS dalam perang tak berujung.

Berbicara di Gedung Putih, Biden menyampaikan bila militer Afghanistan memiliki kapasitas yang mumpuni untuk memerangi Taliban. Pada saat yang sama, ia juga menetapkan 31 Agustus 2021 sebagai tenggat waktu penarikan militer, dengan catatan menyisakan 650 tentara untuk mengamankan Kedutaan AS di Kabul.

“Kami mencapai tujuan itu, itu sebabnya kami pergi,” kata Biden, merujuk pada keberhasilan membunuh Osama bin Laden sebagai dalang serangan 9/11 dan menumpas teroris global Al-Qaida.

“Kami tidak pergi ke Afghanistan untuk membangun suatu bangsa. Itu adalah hak dan tanggung jawab rakyat Afganistan sendiri untuk memutuskan masa depan mereka serta bagaimana mereka ingin menjalankan negara mereka,” terang Biden.

Pernyataan itu diperkuat keterangan dari Gubernur Ghor, Abdulzahir Faizzada, yang menyebut ada perempuan yang bertempur melawan pemberontak. Menurut Faizzada, para perempuan yang bertempur rata-rata diliputi kemarahan akibat perbuatan pemberontak. “Mereka melarikan diri dari desanya setelah kehilangan suami dan anak-anak. Jadi, mereka sangat marah,” kata dia. Faizzada menuturkan, dia siap mendukung pelatihan tempur bagi wanita, jika mendapat izin dari pemerintah pusat.